Root, Character, Attitude

Salam, nama saya Dozan Alfian. Selamat membaca :)

Root, Character, Attitude

Hellavila Records, Minor Label asal Jogjakarta. Induk dari Cranial Incisored, Spider's Last Moment, Lex Luthor The Hero dan Overseas

Root, Character, Attitude

Between The Living And The Dead, Full Length kedua dari Lex Luthor The Hero, dirilis 19 Agustus 2011 BEBAS BEA a.k.a FREE DOWNLOAD

Root, Character, Attitude

Lex Luthor The Hero, Hardrock. Band naungan Hellavila Records

Showing posts with label Video. Show all posts
Showing posts with label Video. Show all posts

Wednesday, 8 October 2014

The Odds Of Getting Event - Gitar

Pada suatu kala, saya berpikir untuk gaya-gayaan membuat sebuah video bermain gitar dengan membawakan bagian gitar pada lagu dari band saya, Lex Luthor the Hero. Mulanya saya berpikir untuk memainkan Bunuh Teman Bermuka Dua, sebuah nomor yang paling sering kami  bawakan tiap kali manggung. Saya bimbang sendiri, lagu ini mempunyai dua versi berbeda yang masing-masing dapat didengar baik di album pertama A Random Act of Violence (2009) maupun album kedua Between the Living and the Dead (2011). Versi kedua adalah favorit saya karena lebih garang dan cara Jay bernyanyi lebih macho. Tapi versi pertama juga adalah versi yang unik, karena memasukkan unsur musik yang komikal pada bagian interlude. Akhirnya saya batal memilih lagu ini.

Pilihan kedua saya ada pada It's Just A Game. Sebuah tembang yang lumayan ugal-ugalan karena menolak bermain aman, mencampurkan Southern Rock, Folks, Metal, Trash bahkan sedikit sentuhan melodius a la Metalcore. Sekali lagi saya terpaksa menggugurkan pilihan ini mengingat lagu ini cukup rumit pada bagian solo yang berlayer 3 lapis. Malas rasanya mengedit video yang menyempilkan scene kecil di sudut yang menggambarkan progresi solo gitar. Ya, saya memang pemalas.

Sempat saya ingin membawakan I'm Mess, You're Disaster tapi lagi-lagi ada kendala, dimana pada bagian solo gitar saya memainkannya menggunakan steel slide. Dan saya sudah lama sekali kehilangan steel slide saya. Maka cukup jelas bukan, mengapa lagu ini tak jadi dimainkan.

Setelah menimbang-nimbang, The Odds of Getting Event nampaknya paling mudah direalisasikan. Mengingat durasinya tak panjang, dan lagu ini lumayan catchy. Yup, saya memutuskan untuk memainkan lagu ini. Segera saja saya siapkan kamera, mengatur posisi duduk dengan beberapa kali mengambil self-picture dalam posisi bermain gitar, sekedar untuk memastikan bahwa posisi saya sudah pas dalam frame. Maklum, saya mengerjakannya sendiri dengan alat seadanya. Tak lupa saya membuka banyak tirai agar pencahayaan alami masuk, meskipun tidak maksimal yang bisa dilihat dari masih adanya noise yang muncul pada video hasil akhirnya.

Tanpa basa basi, saya segera saja merekam gambar dalam 3 angles  berbeda menggunakan kamera mirrorless Sony Nex-3. 1 dari depan, 1 dari samping kiri atas dan 1 dari samping kanan bawah. Hasil perekaman gambar digabungkan menjadi satu dengan Cyberlink Powerdirector 11.

Secara teknis, lagu ini cukup mudah dimainkan. Lagu ini dimainkan dalam seteman drop D dengan senar berpenampang paling kecil 0,10mm. Pada proses rekaman aslinya, saya menggunakan gitar Scechter Diamond Series dengan pick up orisinil Scechter yang disambungkan ke POD XT Live dan berujung di Marshall JCM 900. Juru rekam kami (waktu itu adalah WisnuJahat, vokalis-gitaris dari band punk Peach 6012) menyarankan saya agar merekam dalam 2 track, untuk track utama dimainkan dalam posisi pick up selector pada pick up bridge dan untuk track layernya dimainkan dalam posisi pick up selector berada di center atau kombinasi bridge-neck. Hasil akhirnya bisa teman-teman lihat dan dengarkan pada video berikut ini. Selamat menyaksikan








Sunday, 22 April 2012

Rock N' Roll, Outlaws And The Death Of Meredith Hunter


Hey, hey people!
Sisters, brothers and sisters!
Everybody just cool out! Will you cool out everybody?


Sabtu, 6 Desember 1969

Biduan The Rolling Stones, Mick Jagger terlihat sibuk berteriak menebar seruan menenangkan kerumunan massa yang sedang terlibat baku-hantam hanya beberapa meter didepannya.

Sementara itu panggung nampak penuh berisi bikers berompi jeans dengan bordir yang sudah tak asing lagi di jagat ugal-ugalan roda dua: Hell's Angels.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Untuk mengetahuinya kita perlu menengok beberapa jam kebelakang ........
________________

Altamont Speedway Free Festival (dikenal juga sebagai Altamont Free Concert), sesuai namanya adalah sebuah pertunjukan musik bebas bea, tanpa dipungut HTM, plus menampilkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, hingga The Rolling Stones sebagai penampil utama. Selain berhasil menggaet sekitar 300 ribu orang untuk datang, tercatat 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam dan  —duh Gusti— 1 orang terbunuh. 
Mari kita runut bersama konser nahas yang juga didokumentasikan ke dalam sebuah film dokumenter mengenai minggu-minggu terakhir tur The Rolling Stones di Amerika dengan judul Gimme Shelter ini.


Sejatinya pagelaran ini hendak diselenggarakan di Golden Gate Park di San Fransisco, namun karena alasan perijinan kemudian pindah ke Sears Point Raceway, mentok lagi, hingga akhirnya disepakati memakai Altamont Raceway. Hari dan tanggal penyelenggaraan: Sabtu, 6 Desember 1969 dan —Menurut sebuah versi— atas rekomendasi The Grateful Dead, geng motor Hell’s Angels dipakai sebagai tenaga keamanan. Dengan koordinator lapangan Ralph "Sonny" Barger, ketua Hell’s Angels cabang Oakland. Kabarnya Hell's Angels meminta segunung bir senilai 500 Dollar Amerika Serikat sebagai kompensasi pengamanan. Beberapa orang memberikan versi sama sekali berbeda, terutama Sam Cutler, road manager The Rolling Stones. Ia menolak anggapan bahwa Hell’s Angels memang disewa sebagai satuan pengaman.


Ralph 'Sonny' Barger
Sahibul hikayat, konser berjalan aman-tentram-kerta raharja. Audiens yang kebanyakan merupakan kaum hippies nampak bergembira-ria  —mungkin tepatnya 'high'— sementara sejawat bikers kita di seberang  asyik menikmati suguhan bir cuma-cumanya.
Menuju tengah acara, keadaan berangsur memburuk. Mayoritas penonton yang hippies tulen itu mabuk, giting, overdosis, halusinasi, paranoid, campur aduk jadi satu. Satuan pengaman ugal-ugalan yang tadinya anteng-adem-ayem mimik bir jadi tersulut untuk berubah menjadi antagonis. Keributan-keributan kecil mulai terbangun secara sporadis.
Keributan makin berkobar tatkala Denise Jewkes, personel band asal San Fransicso, Ace of Cups, yang saat itu sedang hamil 6 bulan, terjengkang dan mengalami gegar otak akibat terkena lemparan botol bir. Kondisi spontan binal-berangasan. Hell’s Angels merangsek penonton agar mundur agak menjauh dari panggung yang tak cukup tinggi untuk konser semasif itu.
Kontingen Hell's Angels segera saja naik pitam, tak kuat diuji kesabarannya demi melihat salah satu motor awaknya yang ditempatkan di atas panggung dijatuhkan oleh penonton. Marty Balin, Biduan Jefferson Airplane tak luput dari penganiayaan. Dia dihadiahi bogem mentah oleh salah seorang awak Hell's Angels hingga semaput. The Grateful Dead yang ngambek, merespon aksi barbar tersebut urung tampil dan bergegas meninggalkan arena.


 


Ketika tiba giliran The Rolling Stones tampil, Altamont sudah tidak kondusif dan minus positifitas. Ribuan penonton terdesak maju hingga ke bibir panggung, mengakibatkan banyak yang berusaha naik panggung demi membebaskan diri dari himpitan massa yang menyesakkan itu. Tak hentinya Mick Jagger menyerukan "Just be cool down in the front there, don’t push around."


Meredith Hunter (dilingkari)
Masuk tembang ketiga "Symphaty For The Devil" kekacauan pecah lagi. Jagger sempat menghentikan lagu dan meminta semua kalem. Konser berjalan lagi sampai sekitar beberapa lagu berikutnya, tepatnya pada gita "Under My Thumb", Meredith Hunter, pria muda berusia 18 tahun, bergerak mendekati panggung walau—menurut kisah Porter Bibb, produser Gimme Shelter—sang pacar, Patty Bredahoff, merajuk memohon-mohon agar ia tetap tinggal di tempat. 


Meredith Hunter yang notabene sedang "on" berat akibat methamphetamine dan berjalan lunglai sempoyongan, terus saja maju ke depan. Tiba-tiba Meredith mengeluarkan revolver dari saku jaketnya. Patty lalu berusaha merampasnya.

Khalayak yang berada di dekatnya otomatis ketakutan dan berusaha menjauhi. Alan Passaro, anggota Hell’s Angels yang kebetulan sedang di sekitar TKP segera melesat menghampiri, mencabut belati, dan menghujamkannya hingga 5 kali ke tubuh Meredith. Meredith langsung meregang nyawa, menghembuskan nafas terakhir (sebagian saksi mengatakan bahwa saat Meredith terjungkal ke tanah, kerabat Hell’s Angels yang lain beramai-ramai menzaliminya pula).
Hell's Angels kala menzalimi Meredith Hunter
 Meredith Hunter konon hendak membidikkan pistol ke Mick Jagger semata gara-gara cemburu karena sepanjang pertunjukan sang pacar terus-terusan bilang naksir Mick Jagger. Akibat perbuatannya Alan Passaro langsung ditangkap dan diinterogasi. Belakangan Alan Passaro dibebaskan setelah sebuah rekaman video membuktikan bahwa tindakan Alan Passaro sekadar mempertahankan diri.





Kerusuhan yang terjadi tak begitu disadari oleh awak The Rolling Stones, mereka hanya menonton dari atas panggung, bingung, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tak lama kemudian kontingen asal Inggris tersebut melanjutkan penampilannya sampai kelar 15 lagu. 

Di lain kesempatan Ralph "Sonny" Barger mengklaim bahwa The Rolling Stones bersedia meneruskan karena Sonny menyodorkan pistol ke Keith Richards serta mengancam akan membinasakannya jika sampai berani menyetop pertunjukan.
You keep fuckin’ playing or you’re dead!




DOZAN ALFIAN
*Dikutip dengan perubahan, dari berbagai sumber.*



Thursday, 19 April 2012

Pantera - The Glam (and ridiculous) Years

Anak metal mana yang tak kenal Pantera?
Bahkan saya hakkul yakin jika pelaku dan penikmat musik dari disiplin ilmu non-logam berat (heavy metal, mind you!) pun pasti mengenal keadiluhungan nama Pantera.
The Grooviest Band In The World ber-attitude gahar dengan sound ultra berat namun groovy seperti nampak dalam citraan berikut ini:
Rex Brown - Dimebag Darrel - Phillip Anselmo - Vinnie Paul

Tapi, berapakah dari sejawat sekalian yang tahu sejarah 'kelam' band ini sebelum merilis Platinum Album bertajuk "Cowboys From Hell" (1990)?

Kelam? ya, KELAM. Karena walaupun secara resmi mereka berkata bahwa album pertama mereka adalah Cowboys From Hell, sesungguhnya Pantera telah menelurkan 4 album sejak tahun 1983 (mereka berkeras tidak bersedia memasukkan 4 album ini dalam diskografi resmi Pantera). Hanya saja anda tak akan menemukan Pantera yang selama ini dikenal.

Pantera dulunya menganut Glam Rock.

Duh Gusti, coba tengok Vinnie Paul (paling kanan)
Sudah selesai menikmati keterkejutan anda? Ah, saya belum selesai kok. Masih ada lagi nih:



Dibentuk oleh dua bersaudara 'Diamond' Darrell (nama yang dipakai sebelum 'Dimebag' - gitaris) dan Vinnie Paul (drum) bersama biduan Terry Lee Glaze dan bassist Rex 'Rocker' Brown, Pantera menghantam skena di klub-klub Texas memainkan gita tenar dari Kiss dan Van Halen. Mereka merilis debut album "Metal Magic" pada tahun 1983 dan melakukan tur bersama Dokken dan Stryper.

Album kedua "Projects In The Jungle" rilis menyusul pada tahun 1984 dimana 80's hair/glam metal scene sedang menggejolak dan mewabah. Sedikit meninggalkan melodic influences di album sebelumnya, kali ini mereka sedikit lebih heavy dan yah..seakan berkata 'put on your leathers, slap on your spikes, me and the boys are out rocking tonight'.

Saking produktifnya, pada tahun 1985 mereka merilis "I Am The Night" dan diproduksi oleh Ayahanda Darrel dan Vinnie (memakai nickname The Eldn). Album ini pun kembali lebih heavy dari album sebelumnya meskipun tentu saja masih mengatasnamakan glam. Sayangnya (atau malah untungnya?) beberapa saat setelah rilisnya, Terry Lee Glaze memilih hengkang dan membentuk Lord Tracy. Phillip Anselmo (ex Razorwire, Samhain) didaulat menjadi biduan utama Pantera.

Setelah Anselmo bergabung, Gold Mountain (label baru mereka) mencoba mengarahkan Pantera ke arah yang lebih komersil, namun Pantera justru merilis "Power Metal", album paling berat sepanjang sejarah glam mereka.
Konflik kembali melanda, Darrel diaudisi menjadi gitaris Megadeth. Tetapi Darrel berkeras bahwa dirinya dan Vinnie Paul adalah satu kesatuan. Segendang-sepenarian. Sama-sebangun. Berhubung Megadeth sudah memiliki penabuh drum, maka Darrel (puji Chuck Schuldiner!) batal menjadi bagian dari Megadeth.

Sembah-sujud pada Tuhan Yang Maha Esa, pada tahun 1990 kontingen asal Arlington, Texas ini bertobat dan bersedia melepas segala macam atribut glam mereka, meningkatkan lagi playability ke tingkat yang lebih berat dan merilis "Cowboys From Hell".
Album dengan tembang-tembang klasik macam Cowboys From Hell, Cemetery Gates dan Shattered ini mengantarkan mereka menjadi band yang tahu mengartikan groovy dan heavy secara tepat.

Sekiranya kisah nyata Pantera ini layak menjadi pelajaran bagi sejawat yang membentuk band atas dasar trend. Percayalah, kariermu hanya akan seumur trend itu berjaya. Anda tentunya tak ingin seperti Pantera yang terpaksa mendurhakai album lawasnya dan mengubur rapat-rapat segala macam dokumentasi masa 'kelam' mereka kan?

DOZAN ALFIAN
 ____________________________________________

Where Are They Now?

Dimebag Darrel
Gitaris berbakat dan disegani di jagat pergitaran ini nahas nasibnya karena harus meregang nyawa (2004) tersambar timah panas yang diletuskan oleh Nathan Gale, seorang fans yang kabarnya kecewa atas bubarnya Pantera.
Kala itu Darrel sedang tampil dengan Damageplan di Ohio, bandnya paska pisah dengan Pantera.
3 tembakan, dan robohlah dia untuk selamanya....






Phillip Anselmo
Saat ini dikenal sebagai biduan dari Down sekaligus pemilik Housecore Records, label rekaman yang didirikan dengan tujuan merilis proyek-proyek musikalnya.









Vinnie Paul
Selain menjadi kolumnis di majalah Revolver, pria gempal yang merupakan kakak kandung Dimebag Darrel ini terdaftar sebagai penabuh drum untuk Hellyeah.








Rex Brown
Terakhir menjadi bagian dari Down bersama biduan Phillip Anselmo sebelum akhirnya digantikan oleh Pat Bruders karena menderita pankreatitis akut.

Tuesday, 6 March 2012

Karena Dokumentasi Adalah Bagian Dari Peradaban



Beberapa waktu lalu, 21 Februari 2012 melalui Twitter, sejawat Halim Budiono -gitaris dari Cranial Incisored- memberikan sebuah link video dari Gerilya Magazine yang mendokumentasikan musik underground di Yogyakarta kisaran tahun 2001 via Youtube.



Pemilik akun @woktherock yang dimention oleh Halim Budiono tersebut adalah Wowok, atau biasa dikenal dengan nickname Wock The Rock, adalah sosok dibalik Net Label bernama Yesnowave dan juga terlibat sebagai Kurator dalam album kompilasi Jogja Istimewa (2010).

Kembali ke link yang diberikan Halim Budiono tadi, saya yang baru aktif menjadi bagian dari peta musik di Yogyakarta pada tahun 2005 tentu saja girang bukan kepalang menemukan artefak berharga, sebuah dokumentasi apa yang terjadi dalam scene underground di Yogyakarta pada era kisaran tahun 2001. Sontak saya langsung meretweet link tadi ke Luhki Herwanayogi, saudara - rekan - sejawat bisnis saya dalam rencana proyek pendokumentasian musikal di Yogyakarta.
Memang proyek ini berjalan tersendat-sendat, salah satunya adalah faktor dokumentasi yang seringkali diabaikan oleh semua yang terlibat dalam dunia musik di Yogyakarta sehingga menyebabkan proses mengumpulkan materi di kurun waktu yang kami sasar susah didapat. Maka tentu saja video ini adalah sesuatu yang berharga sekali bagi saya:

 
Kelar menonton video tersebut, saya berpikir, mengapa kita memiliki kesadaran akan pendokumentasian yang minim sekali? Oke, katakanlah kamera SLR atau kamera video beresolusi tinggi adalah barang mewah kala itu, tapi bukan tidak mungkin bisa saja di dokumentasikan dengan piranti yang low quality. Hey, ini adalah Do It Yourself Culture! mengapa membatasi diri dengan sesuatu yang tak terjangkau? Untunglah saat ini piranti penunjang pendokumentasian adalah barang yang ramah kantong alias mulai terjangkau oleh daya beli masyarakat. Semoga saja kedepannya generasi muda dibawah saya tidak alpa dalam mendokumentasikan sehingga tidak kesulitan kala mencari bahan studi kultural berupa dokumentasi baik visual maupun audio-visual.

Semoga....

Sunday, 29 January 2012

FREE SCIENCE FLAG on L.A. Lights Indiefest 2008

Betapa mengagumkannya dunia maya ini, dan betapa mulianya mesin pencari macam google.com yang membawa saya menuju sebuah halaman web dan menemukan sebuah video nostalgia yang, duh gusti, lawas dan memorable bagi perjalanan musikal saya dulu.

Selama bermain bersama Lex Luthor The Hero saya juga tergabung dalam sebuah pop-punk band bernama Free Science Flag bersama Hafidh Priambodo (Lex Luthor The Hero's Drummer), dan disini saya kebagian jatah sebagai gitaris additional saja mengisi kekosongan lini 6 dawai yang ditinggalkan oleh Andre (Black Widow).

Pada waktu itu saya ikut membuat aransemen gitar untuk lagu berjudul Sia-Sia dan mengisi ulang track gitar untuk lagu Waktu. Dalam perjalanannya, lagu Waktu dan Sia-Sia tersebut dikirimkan oleh Wawa (Vokalis Free Science Flag) kepada panitia L.A. Lights Indiefest 2008.

Tak dinyana, dari sekian banyak band yang mendaftar, kami masuk kedalam 100 besar yang akan disaring lagi menjadi berapa dan berapa (maaf, saya lupa) dan diwajibkan untuk video screening, melihat kelayakan kami dalam berperforma di layar kaca.

Kejadian konyol terjadi dalam video screening ini. Kami yang mendapat kabar bahwa Waktu lah yang masuk sebagai lagu yang di videokan, tentu saja sudah berlatih koreografi membawakan Waktu, karena pengambilan gambar ini bersifat lipsync dan tanpa ada retake gambar. Terkejutlah kami begitu di atas set panitia memutarkan Sia-Sia. Kami sama sekali tidak siap dan memutuskan untuk bergerak se-enerjik mungkin untuk menutupi kedodoran yang ada.

Yah, tetap saja, saya ingat betul bagaimana Wawa asal bergaya memainkan gitarnya sehingga koreografi progresi kord kami tidak sama. Belum lagi saya yang juga tidak sinkron antara gerakan penjarian melodi gitar dengan tape yang diputar. Asli, kocak luar biasa!

But, here it is, sekali sejarah, tetap sejarah :

Sunday, 22 January 2012

Bangga Menjadi Indonesia



Sebuah visual dari Luhki Hewanayogi, "Bangga Menjadi Indonesia", pemenang Dwi Sapta IMC TVC Competition 2011.

Video "Bangga Menjadi Indonesia" ini bercerita tentang seorang fotografer penjelajah asli Indonesia, yang sudah pergi mengelilingi Indonesia dan mempunyai banyak pengalaman serta cerita tentang seluk beluk kehidupan Indonesia. Ia menjadi banyak tahu tentang segala aspek kekayaan yang dimiliki Indonesia. Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa cerita tentang pengalamannya tersebut. Pada suatu saat, ia mendapat kesempatan bepergian keluar negeri. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk berbagi cerita kepada siapa saja yang ia temui tentang Indonesia, dan di video ini ia sedang bercerita tentang sebuah kota di Indonesia, Yogyakarta. Ia adalah seorang pemuda, yang bangga menjadi bagian dari Indonesia, dan akan selalu menceritakan kebanggaannya pada Indonesia, kemanapun ia pergi.

Produksi : Lotus Cinema

Producer : Bob M Singadikrama
Director : Luhki Herwanayogi
DOP : Gumilang Almas
Cast : Artyo Wicaksana
Marlene Klassmer

Art Director : F.A. Aritonang
Artistic : Tomblok
Editor : Naradhipa
Assistant Producer :
Luqman Hakimi
Girindra Adisajjana
Assistant Camera : Bagus Suitrawan
Make up & Costume : Istyakara
Assistant Make up :
Aprilia T.R.
Sarah Rizqia

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More