Root, Character, Attitude

Salam, nama saya Dozan Alfian. Selamat membaca :)

Root, Character, Attitude

Hellavila Records, Minor Label asal Jogjakarta. Induk dari Cranial Incisored, Spider's Last Moment, Lex Luthor The Hero dan Overseas

Root, Character, Attitude

Between The Living And The Dead, Full Length kedua dari Lex Luthor The Hero, dirilis 19 Agustus 2011 BEBAS BEA a.k.a FREE DOWNLOAD

Root, Character, Attitude

Lex Luthor The Hero, Hardrock. Band naungan Hellavila Records

Monday, 30 April 2012

Rock In Celebes 2012


Siang lalu (Minggu, 29 April 2012) cuaca panas luar biasa. Tapi nampaknya itu tak menyurutkan semangat scenester lokal kota Makassar untuk hadir dalam pagelaran musik akbar bertajuk Rock In Celebes 2012 yang bertempat di Trans Studio Park Makassar.
Acara yang digagas oleh Chambers Entertainment ini sejatinya dijadwalkan mulai pada pukul 14.00 WITA, namun apa daya, venue masih lengang hingga menjelang rehat Maghrib. Belum lagi molornya jadwal acara membuat pagelaran rock ini agak kurang bonafit bagi saya.
Saya datang sekitar pukul 15.00 WITA, tepatnya ketika Psycroptic (Australia) sedang on stage. Sukseslah saya tercengang bukan buatan demi melihat band sekelas Psycroptic di set begitu awal plus audiens yang belum seberapa. Padahal sungguh, output suara yang dihasilkan dari permainan mereka sangatlah bersih. Rapi-jali lagi minus bebunyian sember.

Kelar Psycroptic menunaikan hajatnya, baik stage 1, 2 maupun 3 nampak tiada menunjukkan aktivitas apapun. Kosong melompong.
Merujuk dari jadwal yang saya dapatkan dari web rockincelebes.com seharusnya band-band lokal sudah sibuk bahu-membahu bekerjasama memanaskan venue yang masih saja terlihat lengang itu. Tapi apa daya, beberapa pemungkas utama justru memakai waktu sesorean itu untuk melakukan sound check. Sebut saja Deadsquad dan The S.I.G.I.T yang berasyik-masyuk dengan kegiatan menganalisa tata suara panggung hingga mengakibatkan penampil-penampil lokal yang dijadwalkan naik pentas sore itu cuma bisa bersabar --sambil bengong dan mengelus dada-- menanti band-band "ciptaan Tuhan" itu tunai sudah melakukan sound check.

Keadaan di venue benar-benar mengalami masa reses, sehingga saya memutuskan meninggalkan venue hingga bubaran Maghrib. Saat saya kembali, Superman Is Dead (SID) sudah sibuk memainkan repertoarnya. Bolehlah saya akui, Jerinx mungkin adalah bangsat paling tengik yang pernah diciptakan Tuhan. Selain dia mendominasi SID, tak sungkan dia sedikit berkelakar "Besok kami akan main di Jakarta bersama band US yang bernama A Kali 7" sebelum akhirnya dikoreksi oleh koleganya --entah Bobby atau Eka-- "A 7 Kali, bukan A Kali 7". Lumayan, aksi mereka cukup bisa memanaskan crowd yang sejak sore limbung-sempoyongan akibat molornya rundown acara yang luar biasa brengseknya.
Kelar SID, band-band penampil keluaran bumi pertiwi Sulawesi dipersilahkan unjuk gigi. Duh Gusti, hampir kesemuanya menyuguhkan dubrak desing yang nyaris serupa. The Box, produk impor dari Palu (Sulawesi Tengah) yang menjadi penyelamat kejenuhan saya. Meskipun (lagi-lagi) memainkan musik berdistorsi tinggi, mereka menyuguhkan sesuatu yang unik: kombinasi antara musik bertegangan tinggi dengan alat musik tradisional yang berupa suling dan semacam perkusi yang entahlah apa namanya. Menarik pula, sang biduan yang nampak mirip mendiang Ucok Harahap (AKA) ketika muda ini berkata bahwa Pemerintah Kota Palu menyupport mereka hingga ke ajang Rock In Celebes ini. Ah, andai saja semua Pemerintah Kota meniru sifat terpuji dari Pemerintah Kota Palu tersebut...

Sebelum saya lanjutkan, perlu diketahui bahwa kemoloran rundown ini nampaknya berakibat pada durasi tampil bagi penampil lokal. Nampaknya jatah manggung mereka terpaksa disunat sehingga masing-masing band lokal hanya mendapat jatah 2 lagu. Berhubung saya pernah mengalami hal menyebalkan semacam ini dulu ketika aktif dalam band, saya menyayangkan sekali berantakannya masalah pengaturan waktu.

Oke, kelar The Box selama beberapa waktu kedepan teman-teman penampil lokal berlomba menjadi yang paling berisik. Oke, agaknya saya yang salah karena acara ini bertajuk Rock In Celebes bukan? Jadi
wajar kalo isinya melulu band cadas kan? Baiklah, no offense.

Euphoria massa menjadi masif tatkala gerombolan pembangkang orangtua asal Jakarta dan bernama Deadsquad naik panggung. Sontak circle pit terbentuk. Walaupun minus Christoper 'Coky' Bollemeyer, crowd seakan tak peduli dan tetap sibuk ber-headbang.
Tuntas Deadsquad unjuk kebolehan, beberapa band lokal kembali mengisi panggung sampai akhirnya Suffocation naik singgasana.

Frank Mullen (Biduan) benar-benar sosok yang ramah bersahaja. Tak hentinya dia berinteraksi dengan crowd. Guy Marchais (Gitaris) nampak memakai tees dengan logo yang familiar bagi publik metal Indonesia: Death Vomit. Wow!
Sesuai perkiraan saya, massa menjinak pada penampilan Suffocation. Circle pit tak lagi semasif dan se-begajulan pada waktu Deadsquad tampil. Agak terkejut juga saya ketika mendengar beberapa audiens disekitar saya berharap Suffocation menyudahi permainannya. Suffocation kalah pamor?
Peduli setan dengan pamor, yang jelas melewatkan Suffocation adalah nista, apapun yang terjadi pada reaksi massa.
Andra and the Backbone mengawali performa mereka dengan membawakan cover version dari Foo Fighters: My Hero, dilanjut menggempur dengan hits-hits mereka yang sukses membuat audiens menikmati penampilan mereka.
Jika Suffocation saja tidak disambut dengan antusias berlebih, apalagi jika Dawn Heist? terlihat crowd hanya mengisi stage 2 tempat mereka perform. Sisanya? Sibuk kenduren di tepi venue.
The S.I.G.I.T. lah yang akhirnya membakar semangat crowd yang sudah lelah berdiri. Singalong berjamaah terdengar mengiringi teriakan-teriakan sexy yang keluar dari Rekti.

Tiba pada pemuncak acara, Seconhand Serenade didaulat menutup perhelatan Rock In Celebes 2012 ini. Terlihat beberapa pasangan sibuk mempererat pelukan. Beberapa penggila galau pun bersiap melolong mencurahkan isi hati. John Vesely, si empunya band benar-benar mendominasi dan manjadi raja bagi para hulubalangnya. Agak sedikit over sebenarnya jika tiap jeda ganti lagu John Vesely selalu mengganti gitarnya. Belum lagi ditambah celetukan-celetukan yang saya hakkul yakin Vesely tidak mengetahui artinya. Seperti pada contoh ketika dia berseru lantang sambil tersenyum lebar mengucap "Makassar, Basamami!" Oh, andai saja dia tahu artinya...
So far, Rock In Celebes kali ini masih membutuhkan banyak pembenahan disana-sini untuk bisa menyandang predikat festival berskala internasional.

Thursday, 26 April 2012

SERINGAI - Tragedi [Free Download]: 1250 downloads Kurang dari 5 Menit!


@aparatmati: #TARING 1250 downloads dalam waktu kurang dari 5 menit. not bad. ^^ #Tragedi

Begitulah tweet dari Arian 13, corong michropone Seringai tadi siang (Kamis, 26 April 2012 kurang lebih pukul 15.00 WIB) sekitar 5 menit setelah link download single terbaru Seringai, Tragedi, diberikan secara cuma-cuma, bebas bea, tanpa HTM sepeserpun via web www.seringai.com sebagai teaser sebelum album terbaru mereka --Taring-- dirilis.

Traffic yang begitu padat dan bottleneck akibat begitu gigantiknya antusias para Serigala Militia mengunduh rilisan terbaru Seringai ini mengakibatkan beberapa kali server internal Seringai down yang lalu diakali dengan membagi link download ke portal online majalah Rolling Stone Indonesia.

Untuk membantu penyebaran single Tragedi ini serta meminimalisasi traffic pada network, teman-teman bisa mengunduh single Tragedi via laman ini :)

download TRAGEDI


Wednesday, 25 April 2012

[Press Release] Seringai Umumkan Tajuk Album Baru!

Siapa gig-goer masa kini yang tak kenal Seringai? Kuartet bengal nan ugal-ugalan asal Jakarta ini bersiap merilis album terbaru mereka yang rencananya akan dilabeli judul TARING pada bulan Juni 2012 nanti. Penasaran? Sementara ini simak dulu press release mereka yang saya kutip dari laman Facebook mereka:

Seringai Umumkan Tajuk Album Baru

[For Immediate Release]




Banyak hal penting yang bisa terjadi dalam kurun waktu lima tahun. Amerika Serikat menunjuk seorang pria kulit hitam sebagai presiden, krisis keuangan global melanda, tewasnya teroris yang disebut-sebut paling berbahaya di dunia, pemberontakan gila-gilaan di Timur Tengah, hingga berkumpulnya kembali salah satu pionir metal yang menyebut diri mereka dengan nama Black Sabbath.

Di antara segala kejadian penting yang terjadi sejak 2007 sampai 2012, grup rock oktan tinggi, Seringai, sibuk membawa hawa cadas ke berbagai pelosok negeri, sambil disaat yang sama mematangkan konsep lagu-lagu baru, sekaligus menyimak dan menyerap apa yang terjadi di lingkungan sekeliling mereka. Dan saat ini, bagi vokalis Arian 13, gitaris Ricky Siahaan, bassist Sammy Bramantyo, dan drummer Khemod, waktu telah tiba untuk pukul balik.

Lebih bersemangat dan lebih marah dibanding sebelumnya. Setelah album mini High Octane Rock pada 2004 dan Serigala Militia pada 2007, Seringai akan kembali dengan Taring selaku album penuh kedua mereka.

Pemilihan tajuk Taring sendiri tak jauh berbeda dengan pemilihan nama Seringai, yaitu karena terlihat bagus secara estetika, seperti dibeberkan oleh Arian. Sedangkan Ricky mengatakan bahwa tajuk Taring, dipilih karena kecocokannya, “Mereka yang selama ini akrab dengan Seringai pasti akan langsung tahu bahwa Taring adalah tajuk yang sangat pas bagi kami.”

Taring akan diisi dengan sejumlah lagu yang di antaranya berjudul “Dilarang di Bandung”, “Tragedi”, “Infiltrasi”, “Lagu Lama”, “Serenada Membekukan Api”, dan juga “Taring”.

Sebagai produser rekaman, Ricky berjanji bahwa album ini akan memanjakan setiap pasang telinga pendengar melalui nomor heavy rock yang dipadu dengan unsur punk dan tentu saja metal yang berat.

“Tenang. Motorhead, Black Sabbath, dan Slayer masih jadi bahan pemujaan Seringai. We’re not going to fix anything if it’s not broken. Tapi di saat yang bersamaan ada nuansa baru yang terinspirasi dari karya-karya Turbonegro hingga Deep Purple,” jelas Ricky.

Sementara dari lirik, Arian masih bergelut dengan tema-tema andalannya, seperti kritik sosial politik dan ajaran bagaimana bersenang-senang itu seharusnya dilakukan. Tapi selain itu ada pula yang bertema fiksi ilmiah dan bahkan yang tidak memiliki makna apa-apa.

Arian memberikan contoh: “Kami punya sebuah lagu tentang Boba Fett, seorang karakter badass favorit gue di Star Wars. Ada juga tentang kausalitas yang salah, seperti antara bencana alam dengan akhlak manusia. Ada lagi tentang pembredelan kreatifitas generasi muda hanya karena tidak dimengerti.”

Sebuah edisi terbatas juga telah disiapkan oleh pihak Seringai di mana perbedaannya dari edisi biasa terdapat pada packaging artwork. Alasannya? “Gue seorang kolektor piringan hitam, di mana sering memburu edisi terbatas dari rilisan tertentu. Rasanya menyenangkan. Once they are gone, they are gone,” terang Arian.

Mari kita nantikan dahsyatnya amunisi segar kuartet yang selama ini mendudukkan bokong mereka di atas tahta empuk sebagai salah satu band rock paling beringas yang dimiliki Indonesia saat ini.

\m/

Sunday, 22 April 2012

Rock N' Roll, Outlaws And The Death Of Meredith Hunter


Hey, hey people!
Sisters, brothers and sisters!
Everybody just cool out! Will you cool out everybody?


Sabtu, 6 Desember 1969

Biduan The Rolling Stones, Mick Jagger terlihat sibuk berteriak menebar seruan menenangkan kerumunan massa yang sedang terlibat baku-hantam hanya beberapa meter didepannya.

Sementara itu panggung nampak penuh berisi bikers berompi jeans dengan bordir yang sudah tak asing lagi di jagat ugal-ugalan roda dua: Hell's Angels.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Untuk mengetahuinya kita perlu menengok beberapa jam kebelakang ........
________________

Altamont Speedway Free Festival (dikenal juga sebagai Altamont Free Concert), sesuai namanya adalah sebuah pertunjukan musik bebas bea, tanpa dipungut HTM, plus menampilkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, hingga The Rolling Stones sebagai penampil utama. Selain berhasil menggaet sekitar 300 ribu orang untuk datang, tercatat 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam dan  duh Gusti 1 orang terbunuh. 
Mari kita runut bersama konser nahas yang juga didokumentasikan ke dalam sebuah film dokumenter mengenai minggu-minggu terakhir tur The Rolling Stones di Amerika dengan judul Gimme Shelter ini.


Sejatinya pagelaran ini hendak diselenggarakan di Golden Gate Park di San Fransisco, namun karena alasan perijinan kemudian pindah ke Sears Point Raceway, mentok lagi, hingga akhirnya disepakati memakai Altamont Raceway. Hari dan tanggal penyelenggaraan: Sabtu, 6 Desember 1969 dan Menurut sebuah versi— atas rekomendasi The Grateful Dead, geng motor Hell’s Angels dipakai sebagai tenaga keamanan. Dengan koordinator lapangan Ralph "Sonny" Barger, ketua Hell’s Angels cabang Oakland. Kabarnya Hell's Angels meminta segunung bir senilai 500 Dollar Amerika Serikat sebagai kompensasi pengamanan. Beberapa orang memberikan versi sama sekali berbeda, terutama Sam Cutler, road manager The Rolling Stones. Ia menolak anggapan bahwa Hell’s Angels memang disewa sebagai satuan pengaman.


Ralph 'Sonny' Barger
Sahibul hikayat, konser berjalan aman-tentram-kerta raharja. Audiens yang kebanyakan merupakan kaum hippies nampak bergembira-ria  mungkin tepatnya 'high'— sementara sejawat bikers kita di seberang  asyik menikmati suguhan bir cuma-cumanya.
Menuju tengah acara, keadaan berangsur memburuk. Mayoritas penonton yang hippies tulen itu mabuk, giting, overdosis, halusinasi, paranoid, campur aduk jadi satu. Satuan pengaman ugal-ugalan yang tadinya anteng-adem-ayem mimik bir jadi tersulut untuk berubah menjadi antagonis. Keributan-keributan kecil mulai terbangun secara sporadis.
Keributan makin berkobar tatkala Denise Jewkes, personel band asal San Fransicso, Ace of Cups, yang saat itu sedang hamil 6 bulan, terjengkang dan mengalami gegar otak akibat terkena lemparan botol bir. Kondisi spontan binal-berangasan. Hell’s Angels merangsek penonton agar mundur agak menjauh dari panggung yang tak cukup tinggi untuk konser semasif itu.
Kontingen Hell's Angels segera saja naik pitam, tak kuat diuji kesabarannya demi melihat salah satu motor awaknya yang ditempatkan di atas panggung dijatuhkan oleh penonton. Marty Balin, Biduan Jefferson Airplane tak luput dari penganiayaan. Dia dihadiahi bogem mentah oleh salah seorang awak Hell's Angels hingga semaput. The Grateful Dead yang ngambek, merespon aksi barbar tersebut urung tampil dan bergegas meninggalkan arena.


 


Ketika tiba giliran The Rolling Stones tampil, Altamont sudah tidak kondusif dan minus positifitas. Ribuan penonton terdesak maju hingga ke bibir panggung, mengakibatkan banyak yang berusaha naik panggung demi membebaskan diri dari himpitan massa yang menyesakkan itu. Tak hentinya Mick Jagger menyerukan "Just be cool down in the front there, don’t push around."


Meredith Hunter (dilingkari)
Masuk tembang ketiga "Symphaty For The Devil" kekacauan pecah lagi. Jagger sempat menghentikan lagu dan meminta semua kalem. Konser berjalan lagi sampai sekitar beberapa lagu berikutnya, tepatnya pada gita "Under My Thumb", Meredith Hunter, pria muda berusia 18 tahun, bergerak mendekati panggung walau—menurut kisah Porter Bibb, produser Gimme Shelter—sang pacar, Patty Bredahoff, merajuk memohon-mohon agar ia tetap tinggal di tempat. 


Meredith Hunter yang notabene sedang "on" berat akibat methamphetamine dan berjalan lunglai sempoyongan, terus saja maju ke depan. Tiba-tiba Meredith mengeluarkan revolver dari saku jaketnya. Patty lalu berusaha merampasnya.

Khalayak yang berada di dekatnya otomatis ketakutan dan berusaha menjauhi. Alan Passaro, anggota Hell’s Angels yang kebetulan sedang di sekitar TKP segera melesat menghampiri, mencabut belati, dan menghujamkannya hingga 5 kali ke tubuh Meredith. Meredith langsung meregang nyawa, menghembuskan nafas terakhir (sebagian saksi mengatakan bahwa saat Meredith terjungkal ke tanah, kerabat Hell’s Angels yang lain beramai-ramai menzaliminya pula).
Hell's Angels kala menzalimi Meredith Hunter
 Meredith Hunter konon hendak membidikkan pistol ke Mick Jagger semata gara-gara cemburu karena sepanjang pertunjukan sang pacar terus-terusan bilang naksir Mick Jagger. Akibat perbuatannya Alan Passaro langsung ditangkap dan diinterogasi. Belakangan Alan Passaro dibebaskan setelah sebuah rekaman video membuktikan bahwa tindakan Alan Passaro sekadar mempertahankan diri.





Kerusuhan yang terjadi tak begitu disadari oleh awak The Rolling Stones, mereka hanya menonton dari atas panggung, bingung, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tak lama kemudian kontingen asal Inggris tersebut melanjutkan penampilannya sampai kelar 15 lagu. 

Di lain kesempatan Ralph "Sonny" Barger mengklaim bahwa The Rolling Stones bersedia meneruskan karena Sonny menyodorkan pistol ke Keith Richards serta mengancam akan membinasakannya jika sampai berani menyetop pertunjukan.
You keep fuckin’ playing or you’re dead!




DOZAN ALFIAN
*Dikutip dengan perubahan, dari berbagai sumber.*



Friday, 20 April 2012

Behind The Cover: Cranial Incisored - Lipan's Kinetic

Cover album Cranial Incisored: Lipan's Kinetic
Bicara mengenai sebuah rilisan fisik dari suatu band, Faktor apa saja yang mempengaruhimu untuk mengambil sebuah album dari rak display ataupun buru-buru mengirimkan mail order ke alamat valid si empunya band?
Preview teaser lagunya? Karena kamu die-hard-fans-nya? si empunya band adalah temanmu? apa lagi?

Yup, Cover albumnya.

Saya masih ingat benar betapa saya dulu tergila-gila melihat reproduksi sampul album The Beatles berjudul Abbey Road (1969) yang lazim terpasang gagah di beberapa studio musik di Yogyakarta. Ataupun saat  saya menginjak akil balig, saya kerap mencari-cari di internet maupun majalah, penjelasan mengapa sampul The Velvet Underground & Nico (1967) yang bergambar pisang (karya Andy Warhol)  bisa sedemikian sakti mandraguna lagi jaya digdaya di jazirah historis musik dunia.


Menilik jaman, sebelum teknologi menggambar melalui media elektronik begitu majunya, para seniman melukis sendiri (by hand, of course) sampul album yang dikerjakan atas pesanan si empunya hajat (dalam hal ini band, artis solo ataupun produser musik) menggunakan media cat, pensil dan sebagainya. Ataupun melakukan retouch sederhana dari sebuah hasil fotografi. Ataupun kombinasi lukisan dan foto.
Puji Steve Jobs, teknologi berkembang pesat. Perangkat lunak modal menggambar juga melimpah. Para seniman sampul dirangsang untuk makin gila dalam berkreasi.

Salah satu seniman (ah, saya hakkul yakin orang ini keberatan disebut seniman :p ) yang saya interogasi berikut ini adalah orang yang bertanggung jawab atas Album Artwork & Official Merchandise Cranial Incisored: Halim Budiono. Gitaris merangkap main artworker Cranial Incisored ini mengerjakan sendiri keseluruhan konsep dan eksekusi visual album bandnya itu.

Berikut petikan wawancara singkat saya dengannya terkait dengan sampul album Cranial Incisored - Lipan's Kinetic:



Saya mengamati karya-karya anda sejak album pertama Cranial Incisored (Rebuild: The Unfinished Interpretation of Irrational Behavior) selalu menonjolkan sesuatu yang berbau futuristik. Simple di satu sisi, sekaligus rumit di sisi lainnya. Begitu pula untuk album Lipan's Kinetic ini. Apa ide dasar yang mendasari anda menggarap artwork Lipan's Kinetic hingga hasil akhir seperti apa yang nampak saat ini? Bisa ceritakan proses penggarapannya mungkin?
Halim Budiono: Ide dasar? Sebenernya tetap seperti cover album pertama. Futuristik versi saya, futuristik dalam bentuk ide yang lain, dari banjirnya artwork menyeramkan yang membanjir. Beberapa artwork yang menarik perhatian saya, seperti Virulence (A Conflict Scenario), Between The Buried And Me (Colors, The Anatomy Of, etc) jadi referensi juga untuk ide awal cover Lipan's Kinetic. Hal yang membedakan jelas karakter Lucy (boneka wanita Jepang yang menjadi ikon Cranial Incisored, -doze) disini yang sudah menjelma menjadi vector, dan saya saat itu baru mulai merambah belantara Adobe Illustrator, jadi pure album Lipan's Kinetic itu semua work on AI. Ditambah saya pengen ada gambar kota/gedung-gedung seperti Colors (Between The Buried And Me), jadi saya mulai merancang sudut kota sisi lain. Pengerjaan dimulai dari artwork depan, belum terpikir untuk membuat lipatan di dalam yang berkesinambungan (berhubungan satu sama lain sisi-sisinya jika di lipat, sampai dibuka pun tetap menyambung). Setelah Lucy dan gedung kelar, tinggal berpikir tentang hewan/insect yang diinginkan. Insect ini jelas karena saya terasuki artwork Virulence itu [tertawa]. Kalau di album pertama (Rebuild: The Unfinished Interpretation of Irrational Behavior, -doze) itu jenis serangga seperti Capung (class: Odonata), maka untuk yang kedua ini menggunakan Lipan (Centipede). Sengaja judul album ini menggunakan kata Lipan, bukan Centipede, karena mix hasil bahasa ini menjadi efek lain di telinga. Lipan's Kinetic, lebih memberi efek future daripada Centipede's Kinetic, yang lebih terkesan mbruwet entah apa, menurut saya [tertawa].

Album Rebuild: The Unfinished Interpretation of Irrational Behavior
Jadilah mulai research data tentang Lipan, workin', mencampur vectorize dengan bitmap, mengubah bitmap ke vectorize, mencari titik temu yang pas. Aslinya geli juga stengah jijik ngedit Lipan ini. Tapi karena setiap hari melihat di depan monitor, zoom in-zoom out, di depan mata, lama-lama kebal juga. Jadilah artwork total cover depan. Baru setelah itu mendapat ide untuk memutar dan membuat cover yang nyambung di sleeve dalamnya, untuk memberi kenang-kenangan collectible lebih dari sekedar benda fisik. Kalau bisa malah suatu saat pengen membuat yang bisa terlihat 3D saat cover dilipat, ada bayangan hologram yang membentuk Lipan muncul, semoga suatu hari terwujud.
Pengerjaan total sleeve komplit itu sekitar 2 minggu, karena mengejar tanggal rilis, belum masih ditambah dengan pengerjaan konten enhanced CD, menu inside, macam-macam.

Halim Budiono
Kenapa Lipan's Kinetic? Maksud saya, kenapa anda memilih Lipan? Filosofi apa yang ingin disampaikan? Bahkan Lipan pun terlihat futuristik di tangan anda [tertawa]
Halim Budiono: Lipan geraknya cepat, kakinya banyak [tertawa]. Ya jadi imajinasi saya itu lipan bisa bergerak ke segalah arah, tanpa bisa di prediksi, dan tidak terdeteksi, tanpa suara tahu-tahu sudah menghilang pindah dimana lagi. Untuk mengubah Lipan menjadi touching with future...ya itu harus, karena itu menjadi karakter. Seperti musik, kita mendengar musik apapun, menelan apapun yang di dengar, output yang bakal kita keluarkan adalah karakter kita.

Mengapa anda selalu menonjolkan citraan berbau futuristik dalam karya anda?
Halim Budiono: Taste personal aja. Suka film futuristik, artwork futuristik, lirik futuristik. cek lirik-lirik di Fear Factory lama, Meshuggah, apalagi Fredrik Thordendahl's Special Defect, gila mereka itu udah bisa menulis lirik yg sangat future di tahun segitu. Mereka mencuri masa depan. Beberapa yang dulu cuma ide makin hari makin menjadi nyata. Ditambah basic kuliah saya dulu di IT.

Eddie The Head (Iron Maiden) - Vic Rattlehead (Megadeth) - Lucy (Cranial Incisored)

Jika Iron Maiden punya Eddie The Head dan Megadeth punya Vic Rattlehead, maka Cranial Incisored punya Lucy. Apa tujuan diciptakan karakter Lucy? 
Halim Budiono: Lucy, ya dulu mencari sebuah identitas yang mau dibangun. Dimana Megadeth, Iron Maiden punya. Saat itu cuma ada sekali dua kali, itu ga bakal memberi efek besar. Tapi saat itu ditanamkan berulang ulang, muncul berulang ulang, itu bakal membuat orang terbiasa, mengingat dan akhirnya hapal. Sampai suatu saat karakter itu bisa berdiri sendiri tanpa tulisan embel-embel apapun orang tetap bisa ingat. Monster Ed-nya Iron Maiden bisa nongol tanpa tulisan Iron Maiden dan orang tetap bakal tahu itu Iron Maiden. Jelas, itu proses awal yang berulang dan kontinyu. Ya saya pengen seperti itu [tertawa]. Karena suatu saat yang bakal diingat adalah karyamu. Nah itu salah satu cara mengingatnya. Icon.

Sebagai seorang desainer grafis, artwork apa saja yang anda sudah kerjakan sejauh ini? Sejak kapan anda menjadi desainer grafis?
Halim Budiono: Kalau sekarang jarang, dulu ada Kekal (t-shirt/retouch), Asphyxiate (t-shirt), Hands Upon Salvation (t-shirt), Spider's Last Moment (EP), Cranial Incisored (all artwork, t-shirt, media promotion, cover, sleeve, packaging, etc). Sejak kapan ya... ya sejak awal mulai garap artwork utk Cranial Incisored, 2000-an awal lah saya mulai niat beneran.


DOZAN ALFIAN

Thursday, 19 April 2012

Pantera - The Glam (and ridiculous) Years

Anak metal mana yang tak kenal Pantera?
Bahkan saya hakkul yakin jika pelaku dan penikmat musik dari disiplin ilmu non-logam berat (heavy metal, mind you!) pun pasti mengenal keadiluhungan nama Pantera.
The Grooviest Band In The World ber-attitude gahar dengan sound ultra berat namun groovy seperti nampak dalam citraan berikut ini:
Rex Brown - Dimebag Darrel - Phillip Anselmo - Vinnie Paul

Tapi, berapakah dari sejawat sekalian yang tahu sejarah 'kelam' band ini sebelum merilis Platinum Album bertajuk "Cowboys From Hell" (1990)?

Kelam? ya, KELAM. Karena walaupun secara resmi mereka berkata bahwa album pertama mereka adalah Cowboys From Hell, sesungguhnya Pantera telah menelurkan 4 album sejak tahun 1983 (mereka berkeras tidak bersedia memasukkan 4 album ini dalam diskografi resmi Pantera). Hanya saja anda tak akan menemukan Pantera yang selama ini dikenal.

Pantera dulunya menganut Glam Rock.

Duh Gusti, coba tengok Vinnie Paul (paling kanan)
Sudah selesai menikmati keterkejutan anda? Ah, saya belum selesai kok. Masih ada lagi nih:



Dibentuk oleh dua bersaudara 'Diamond' Darrell (nama yang dipakai sebelum 'Dimebag' - gitaris) dan Vinnie Paul (drum) bersama biduan Terry Lee Glaze dan bassist Rex 'Rocker' Brown, Pantera menghantam skena di klub-klub Texas memainkan gita tenar dari Kiss dan Van Halen. Mereka merilis debut album "Metal Magic" pada tahun 1983 dan melakukan tur bersama Dokken dan Stryper.

Album kedua "Projects In The Jungle" rilis menyusul pada tahun 1984 dimana 80's hair/glam metal scene sedang menggejolak dan mewabah. Sedikit meninggalkan melodic influences di album sebelumnya, kali ini mereka sedikit lebih heavy dan yah..seakan berkata 'put on your leathers, slap on your spikes, me and the boys are out rocking tonight'.

Saking produktifnya, pada tahun 1985 mereka merilis "I Am The Night" dan diproduksi oleh Ayahanda Darrel dan Vinnie (memakai nickname The Eldn). Album ini pun kembali lebih heavy dari album sebelumnya meskipun tentu saja masih mengatasnamakan glam. Sayangnya (atau malah untungnya?) beberapa saat setelah rilisnya, Terry Lee Glaze memilih hengkang dan membentuk Lord Tracy. Phillip Anselmo (ex Razorwire, Samhain) didaulat menjadi biduan utama Pantera.

Setelah Anselmo bergabung, Gold Mountain (label baru mereka) mencoba mengarahkan Pantera ke arah yang lebih komersil, namun Pantera justru merilis "Power Metal", album paling berat sepanjang sejarah glam mereka.
Konflik kembali melanda, Darrel diaudisi menjadi gitaris Megadeth. Tetapi Darrel berkeras bahwa dirinya dan Vinnie Paul adalah satu kesatuan. Segendang-sepenarian. Sama-sebangun. Berhubung Megadeth sudah memiliki penabuh drum, maka Darrel (puji Chuck Schuldiner!) batal menjadi bagian dari Megadeth.

Sembah-sujud pada Tuhan Yang Maha Esa, pada tahun 1990 kontingen asal Arlington, Texas ini bertobat dan bersedia melepas segala macam atribut glam mereka, meningkatkan lagi playability ke tingkat yang lebih berat dan merilis "Cowboys From Hell".
Album dengan tembang-tembang klasik macam Cowboys From Hell, Cemetery Gates dan Shattered ini mengantarkan mereka menjadi band yang tahu mengartikan groovy dan heavy secara tepat.

Sekiranya kisah nyata Pantera ini layak menjadi pelajaran bagi sejawat yang membentuk band atas dasar trend. Percayalah, kariermu hanya akan seumur trend itu berjaya. Anda tentunya tak ingin seperti Pantera yang terpaksa mendurhakai album lawasnya dan mengubur rapat-rapat segala macam dokumentasi masa 'kelam' mereka kan?

DOZAN ALFIAN
 ____________________________________________

Where Are They Now?

Dimebag Darrel
Gitaris berbakat dan disegani di jagat pergitaran ini nahas nasibnya karena harus meregang nyawa (2004) tersambar timah panas yang diletuskan oleh Nathan Gale, seorang fans yang kabarnya kecewa atas bubarnya Pantera.
Kala itu Darrel sedang tampil dengan Damageplan di Ohio, bandnya paska pisah dengan Pantera.
3 tembakan, dan robohlah dia untuk selamanya....






Phillip Anselmo
Saat ini dikenal sebagai biduan dari Down sekaligus pemilik Housecore Records, label rekaman yang didirikan dengan tujuan merilis proyek-proyek musikalnya.









Vinnie Paul
Selain menjadi kolumnis di majalah Revolver, pria gempal yang merupakan kakak kandung Dimebag Darrel ini terdaftar sebagai penabuh drum untuk Hellyeah.








Rex Brown
Terakhir menjadi bagian dari Down bersama biduan Phillip Anselmo sebelum akhirnya digantikan oleh Pat Bruders karena menderita pankreatitis akut.

Sunday, 15 April 2012

Overseas: Kami Tidak Keberatan di Cap Christian Metalcore!

Overseas

Suatu sore yang lumayan cerah di sebuah Kedai di seputaran Selokan Mataram Yogyakarta, Biduan Angga Pratama dan Pemetik Gitar Alexander Danniel dari unit Metalcore asal Yogyakarta; Overseas nampak asyik melahap menu pesanannya. 

Sore itu saya datang sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu mereka sambil berdiskusi tentang EP mereka Half of Life, persepsi mereka tentang sebuah album konsep, serta bagaimana Bhagavad – gita mempengaruhi mereka.

Overseas, dulunya dikenal sebagai Lead Me Today memulai perjalanan mereka di tahun 2008 sebagai band yang mengusung Pop-Punk sebelum akhirnya alih haluan menjadi metalcore dan berganti nama menjadi Overseas di tahun 2011. Pada tahun ini pula moment penting perilisan album Half of Life terjadi. Menurut Danniel, Half of Life ini hanyalah sebagian, awal, titik tolak dari perjalanan mereka, setidaknya sebagai batu loncatan menuju full album yang rencananya akan dirilis tahun 2013. “Waktu itu Mas Hafidh (Priambodo, ex drummer Lex Luthor The Hero) menjabat sebagai manajer kami dan menyarankan untuk merilis album ini karena momentumnyanya dirasa pas, kami ganti nama dari Lead Me Today menjadi Overseas, otomatis perlu perkenalan baru,” jelas Danniel.


Half of Life sejatinya dirancang sebagai sebuah album berkonsep dimana menurut Angga, album Tentara Merah Darah (2010) dari Siksakubur memberinya inspirasi. “Kok iso? (kok bisa?) dari sebuah film (300) dan mungkin ditambah beberapa inspirasi lain, mereka bisa bikin album konsep yang secara kesatuan tema menceritakan kisah dari film 300 itu.”
Secara sepintas Half of Life bercerita mengenai kehidupan, bahkan wewahyuan dalam agama Nasrani. Walaupun secara eksplisit Angga tidak keberatan jika Overseas disebut sebagai band pengusung Christian Metal, lain halnya dengan Danniel yang meskipun tidak keberatan, tetap memberikan penjelasan, “Tapi Christian Metal itu cuma sebutan aja sih. Hal yang aku suka dari Angga, kelima lagu di EP kami berangkat dari basic Nasrani, tapi gimana caranya biar orang non-Nasrani yang dengerin tuh ga mikir kalo ini cuma segmented ke orang Nasrani ya, bukan sebagai doktrin. Jadi bisa berkonteks luas.”

Generasi muda pengusung musik dubrak desing saat ini banyak memainkan musik metal yang sudah di blend dengan musik dari genre lain. Begitu juga dengan Overseas. Danniel menambahkan, “kami tetap (memainkan) Metalcore, ditambahin banyak fantasi-fantasi liar (tertawa), dicampur Post-Rock, Fusion Jazz. Adonan utamanya Metalcore, dipercantik beberapa part yang di blend dengan adonan pertamanya. untuk kedepannya lebih tegas lagi, ga segampang kemarin mencampur musik ini-itu. Lebih selektif maunya”.

Angga Pratama dan Alexander Danniel
Obrolan berlanjut seru, tak sadar sebungkus rokok sudah kami habiskan bersama-sama. Beberapa kali Angga tertawa, ataupun mengeluh jika pertanyaan yang saya ajukan teramat klise. Beda dengan Danniel yang mendominasi menjawab berbagai pertanyaan saya, Angga yang merupakan frontman justru minim bicara dan menjawab seperlunya saja. Jujur saya agak terkejut dengan jawabannya atas pertanyaan mendasar yang mempertanyakan alasannya menulis lirik berbau wewahyuan (agamis) serta tema kehidupan. 
 “Mungkin memang seusia kami ini biasanya menulis tema yang fun dan semacam itu. Tapi ya dari awal aku udah nulis lirik tentang wewahyuan atau kehidupan, jadi ya sekalian dilanjut aja sebagai konsep. Aku pernah baca buku Bhagavad-gita tentang kehidupan. Bagus banget nih buku. Sempet ter-influens juga dan aku turunin ke penulisan lirik di EP ini. Tentang kehidupan, berlaku baik. Ya sebagai anak muda yang ga lepas dari kenakalan aja sih (tertawa),  motivasi agar berlaku baik. Bikin hidup lebih baik lah (tertawa).” Lebih jauh lagi Danniel menambahkan, “Kalau aku sih memindahkan mindset sebagian orang yang bilang metal itu anti-Tuhan hanya karena musiknya teriak-teriak. Dari mana coba ada pandangan kaya gitu (tertawa)? Ada kan ya komentar yang kaya gitu. Aku suka metal, tp aku juga beragama, aku pengen aja ngubah pikiran kalo metal itu anti-Christ atau anti-Tuhan. Nah kan ada lirik, aku pengen mereka baca dari lirik itu bisa paham bahwa bisa aja metal dan agama disatukan, disajikan sebaik-baiknya.

Secara gamblang mereka mengatakan bahwa kelanjutan EP ini masih dalam proses meraba-raba. Namun mereka memastikan bahwa rilisan selanjutnya akan menjadi progresi yang lebih lanjut dari Half of Life. “2013 semoga bisa ada rilisan kelanjutan dan mungkin pressure-nya lebih gede dari EP. Jangan sampai lebih rendah dari EP. Progresnya harus naik, bukannya turun,” jelas Danniel.
Menurut Angga, dalam penggarapan EP Half of Life ini kendala-kendala dalam penulisan materinya sudah lumayan mereka pahami. “Susahnya soal penegasan EP itu mau dibawa kemana. Awalnya mau dikonsep "Reflection". sampe akhirnya aku ganti lirik lagu di “Another Judas” yang awalnya berjudul “Crysis”. Aku rekonsep, sampe dapet konsepnya.” Berangkat dari situlah mereka yakin akan progress diskografi mereka selanjutnya.

Well, kita tunggu saja..

DOZAN ALFIAN

The Groovy Bassist: Duff McKagan


Ini cerita tentang Duff McKagan, ex-bassist flamboyan dari kontingen super-bengal asal Los Angeles, California; Guns N' Roses.

Sosok bernama asli Michael Andrew McKagan yang pernah melambung bersama Guns N’ Roses (GN’R) dan kemudian membentuk band Velvet Revoler serta Loaded, di mana dia juga kerap bermain gitar, ini memang figur istimewa. Sudah beberapa tahun belakangan, McKagan menjadi kolumnis di tiga media online terkemuka: SeattleWeekly.com, Playboy.com, dan ESPN.com. Dia menulis apa saja. Tentang olahraga di ESPN.com , soal kemanusiaan, sosial, dan tentu saja soal musik di SeattleWeekly.com dan Playboy.com.

“Di era 1980-an, 1990-an, hingga akhir tahun 2000, orang mungkin hanya mengenal saya sebagai biang kerok. Tapi, tak banyak yang tahu, bahwa sejak dulu, saya sebenarnya kutu buku,”ujar McKagan,  seperti dikutip publisherweekly. “Menulis adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Sesuatu yang selalu saya inginkan.”


Mungkin bukan hal yang istimewa jika McKagan menulis sebuah autobiografi, karena Slash dan Axl Rose, dua eks rekannya di GN’R juga sudah terlebih dahulu menerbitkan biografi. Tapi mohon diingat, dengan segala hormat dan respek saya pada intelejensia musikal anda, GN'R bukanlah Slash dan Axl semata.

Jika “W.A.R. The Unauthorized Biography of William Axl Rose” yang rilis tahun 2007 biografi milik Axl dan “Slash” (2007) milik Slash ditulis oleh wartawan musik Mike Wall dan Anthony Bozza, lain hal dengan McKagan yang menulis sendiri cerita-cerita yang dialami sepanjang kariernya bermusiknya, terutama saat bersama GN’R. Semua ditulisnya sendiri dengan tiap tetesan darah-keringat serta sekelumit memorabilia kehidupan L.A. Party Rockers, termasuk cerita soal ketergantungannya terhadap alkohol. Tak heran, banyak yang menyebut autobiografi McKagan It’s So Easy (And Other Lies)” ini jauh lebih hidup, menyentuh, dan orsinil. 

McKagan -- layaknya jebolan oldschool rockers era 80-an -- dikenal sebagai alkoholik yang taat (taat dalam menyembah substansi beralkohol, tentu saja). Bahkan kabarnya dia bisa menghabiskan setengah galon Vodka per harinya! Sableng! Lepas dari jeratan Vodka yang maha esa, dia beralih ke Red Wine, meski kadarnya tetap saja gila, 10 botol per hari!

Tak melulu bertutur mengenai alkoholisme, dalam biografinya McKagan juga bercerita tentang pengalaman seputar ketergantungannya terhadap obat-obat terlarang dan kehidupan bebas, serta gaya hidup hedonis-konsumeris-ultra destruktif (Sex, Drugs & Rock n Roll, what else -- mind you?). Masih ada pula bonus cerita tentang tikai-seteru plus cekcok reguler yang terjadi di tubuh GN’R, termasuk pertikaiannya dengan biduan GN'R Axl Rose.

“Seks, drugs, dan rock n roll mungkin menarik di atas kertas. Tapi, dalam kasus saya, seks, drugs, dan rock n roll, sama dengan serangan panik (panic attacks),” ujar McKagan, yang kini dikaruniai dua putri: Grace dan Mae Marie, hasil pernikahannya dengan model Susan Holmes. “Cukup lama saya berusaha bebas dari itu semua.”

Bicara skill, McKagan mungkin tidak sejago Billy Sheehan (Mr. Big), Geedy Lee (Rush) dan lusinan nama sepantarannya yang menjabat sebagai pembetot bass dalam sebuah unit musikal. Banyak pihak yang berujar bahwa McKagan berangkat dari kultur punk sebelum akhirnya bergabung bersama GN'R, maka tak heran jika dalam beberapa komposisi lawas GN'R terselip komposisi beraroma punk. Latar belakang nya sebagai Punker membuat dirinya selalu bisa menjadi sosok penengah di GN'R.

Sejalan dengan waktu, perselisihan di antara personel dan pihak luar bak segendang-sepenarian ikut mewarnai perjalanan musik GN’R. McKagan pun jengah dan memilih mundur pada tahun 1997. McKagan menjadi personel asli terakhir yang hengkang mundur teratur, setelah sebelumnya Steven Alder, Izzy Stradlin dan Slash melakukannya pada tahun 1990, 1991, dan 1996.
 McKagan kemudian mudik ke Seatlle dan mencoba kembali bersolo album, seperti yang dia lakukan pada tahun 1993 saat merilis Believe in Me. Sayang, album Beatiful Disease bermasalah, sehingga tak jadi diedarkan.

Setelah sempat berkolabroasi dengan bermacam musisi, McKagan lalu membentuk band Loaded di tahun 1999 dan sempat merilis album Dark Days di tahun 2001. Ketika Loaded vakum, McKagan membentuk Velvet Revorler bersama dua eks GN’R lainnya: Slash dan Matt Sorum.

Bersama Velvet Revolver inilah nama McKagan kembali jaya digdaya meski tak sebenderang kala bersama GN'R dulu binarnya. Album mereka, Contraband (2004) dan Libertad (2007) mendapat respons bagus di pasar musik rock. Walau tentu, mereka tak lagi memainkan glam rock, melainkan cenderung lebih keras.
Lagu-lagu mereka, seperti “Fall to Pieces”, “Slither” dan “Set Me Free” sempat menjadi hits. Begitu juga dengan “Get Out the Door”. Lagu “Slither” bahkan sempat menyabet Grammy Award pada tahun 2005 lewat kategori Best Hard Work Performance.

Selain itu, di luar kehidupan musisinya McKagan masih menyempatkan kuliah di Seattle University's Albers School of Business and Economics mengambil jurusan keuangan dan matematika.

Life's good, Duffy?


DOZAN ALFIAN
Ditulis atas dasar pemujaan ultra gigantik kepada Guns N Roses pra-murtad Rock n Roll......


*Kata-kata oleh Dozan Alfian dengan santunan informasi dari berbagai sumber*

Friday, 13 April 2012

Other People's Song


Introduksi oleh Dozan Alfian
Daftar lagu dan kisah dibaliknya oleh Dozan Alfian


Jauh sebelum para musisi memulai kariernya di blantika musik dan besar dengan karya-karya adiluhung buah kreatifitasnya, nyaris mutlak bahwa mereka beranjak dari mendengar, menikmati (dalam tafsiran pribadi saya berarti: sore hari, hujan, secangkir kopi hitam pekat, berbatang-batang rokok dan full tracks dari Pink Floyd album Dark Side Of The Moon), bahkan membawakan lagu yang terlebih dahulu populer dalam sesi jamming sebelum akhirnya mulai menulis lagu sendiri dan memperkenalkannya ke publik.

Terkait dengan hal tersebut , kali ini saya mencoba merangkum beberapa cover version yang dibawakan oleh band atau artis merujuk pada penghormatan mereka terhadap generasi pendahulu, maupun daya-upaya me-recycle suatu lagu dalam tafsir yang sama sekali berbeda dari lagu aslinya namun masih tetap memiliki kaitan erat-bersahabat dengan versi aslinya.

Dear Lads and Lasses, atas nama penghormatan kepada mereka-mereka yang menginspirasi, inilah sebuah mixtape edisi cover version yang secara sembrono saya juduli Other People's Song:

Adam Lambert – Whole Lotta Love (Led Zeppelin cover)
Bagi yang belum tahu, Adam Lambert adalah runner-up American Idol musim kedelapan. Saya menghormati Robert Plant, menghormati vokalnya yang prima dan kharismanya sebagai Biduan Zeppelin, tapi saya juga bersedia menerima versi Adam Lambert ini. Intro repetisi lagu ini yang memang gagah dari sononya ditambah vokal Lambert yang gemulai semi-garang membuat lagu ini jadi terasa punya kelezatan tersendiri

The Dillinger Escape Plan – Paranoid (Black Sabbath cover)
Metal Matematika! Berandalan Perusak Lagu! Minim Estetika! Bah! Apalah namanya! Bagi saya The Dillinger Escape Plan (TDEP) adalah kontingen dubrak desing yang luar biasa. Sempat merilis mini album berjudul Plagiarism yang berisi cover version mereka, kali ini TDEP meng-cover Paranoid-nya Black Sabbath. Ozzy Osbourne (vokalis Black Sabbath) sebaiknya mulai kembali ke bangku sekolah dan tekun belajar matematika. Oh ya, sebelum kamu menekan tombol skip di pemutar tembang digitalmu karena tidak kuat digempur rentetan playability kacau nan kurang ajar dari TDEP, mohon dengarkan track ini sampai ke tengah-tengah lagunya. TDEP tahu cara bersenang-senang dan urung merendahkan intelejensia Ozzy Osbourne!

Fall Out Boy feat John Mayer – Beat It (Michael Jackson cover)
Jika Michael Jackson membawakan lagu ini dengan pop-minded dan danceable, maka Fall Out Boy dan John Mayer merubah lantai dansa menjadi moshpit kecil-kecilan. Sekian.

Free Science Flag – Helly (Chicha Koeswoyo cover)
Mohon jangan bayangkan sosok Chicha semasa kecil nan lucu saat dia membawakan lagu ini, karena versi Free Science Flag (FSF) ini sungguh duh gusti, bandel, bengal, urakan, amoral dan minus tata krama. Dibawakan dengan gaya punk rock yang menghentak, Wawa sang biduan FSF mengubah liriknya di beberapa bagian. SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK ANAK-ANAK ANDA YANG BELUM MENGALAMI PUBERTAS!

Cranial Incisored – Friday I’m In Love (The Cure cover)
Kontingen chaotic math/free-jazz senior Cranial Incisored (CI) ini adalah tipe band yang senang menggebrak tanpa kulonuwun. Segendang-sepenarian dengan The Dillinger Escape Plan yang memilih membuat cover version dengan persepsi pribadinya, CI pun melakukan hal yang sama terhadap lagu milik The Cure ini. Membuka dengan intro yang manis lalu tiba-tiba bubar-bubrah jadi gerungan adu ilmu menggagahi instrumen musik masing-masing personilnya. Oh ya, kalau saya tidak salah fakta, track Friday I’m In Love yang ada di mixtape ini adalah versi terdahulu yang direkam bersama Roy Agus (drummer Death Vomit) sebelum akhirnya direkam ulang oleh Obet (drum) demi keperluan album Lipan’s Kinetic.

Aerosmith – Come Together (The Beatles cover)
Steven Tyler (vokal) dan aura magisnya. Entah apalagi yang harus saya katakan.

David Lee Roth – California Girls (The Beach Boys cover)
David Lee Roth merilis sebuah mini album berjudul Crazy From The Heat yang mana lagu-lagu didalamnya adalah cover version semua dan dirilis pada tahun 1985. Saat itu dia masih menjadi anggota Van Halen. Ada baiknya juga Lee Roth mulai memikirkan bersolo karier, karena akhirnya dia didepak dari Van Halen. Meskipun akhirnya balik lagi sih di formasi reuninya….

Fightstar – Fear Of The Dark (Iron Maiden cover)
Bruce Dickinson (vokalis Iron Maiden) boleh sudah berumur. Tapi rasanya kalian akan sepakat bahwa vokal Dickinson yang melegenda itu tidak bisa dipadu-padankan dengan Charlie Simpson (Vokalis-Gitaris Fightstar) meskipun sound musik yang dihasilkan Fightstar di sini cukup oke.

Motorhead – God Save The Queen (The Sex Pistols cover)
Berandal meng-cover berandal? Ya God Save The Queen-nya Pistols yang dibawakan dengan riang-ria oleh Lemmy Kilmister and Co. Coba deh lihat video klipnya, Lemmy (vokalis-Bassist)tanpa kumis khasnya itu. Aneh!

Guns N’ Roses – Live And Let Die (Paul Mc Cartney and Wings cover)
Awalnya dibawakan oleh Paul Mc Cartney and Wings  dan didaulat menjadi theme song film James Bond berjudul sama. Dibawakan ulang oleh GNR dengan beat yang berubah-ubah. Rasa-rasanya Duff McKagan (Bassist Guns N Roses) adalah orang yang bertanggung jawab atas beat yang berubah-ubah itu.

The Corrs – Little Wing (Jimi Hendrix cover)
Boleh jadi Little Wing adalah lagu yang cukup banyak di cover. Sebut saja Stevie Ray Vaughn, Eric Clapton, Skid Row bahkan G3 versi Steve Vai – Joe Satriani – Yngwie Malmsteen. Namun versi favorit saya adalah versi The Corrs ini. Selain vokal Andrea Corr memang merdu, solo gitar di tengah lagunya membuktikan bahwa tak harus hi-speed definition untuk melakukan pemujaan gigantik kepada mendiang Hendrix yang agung.

311 – Lovesong (The Cure cover)
Robert Smith (vokalis The Cure) mungkin sedang galau akut saat menulis lagu ini. Belum lagi karakter vokalnya yang depresif mengukuhkan lagu ini sebagai anthem bagi mereka yang sedang jatuh cinta. 311 membawakan lagu ini dengan balutan warna reggae yang tidak terlalu kental dan aura yang lebih terang. Not bad at all.

Red Hot Chilli Peppers – Havana Affair (The Ramones cover)
Sempat mengira ini adalah lagu asli RHCP karena biduan Anthony Kidies mampu meleburkan soul lagu ini dengan gaya khas RHCP. Kewl nuff!

Carlos Santana – Black Magic Woman (Fletwood Mac cover)
Ibu saya adalah penggemar berat Santana dan mengoleksi album-albumnya sejak saya masih kecil. Jadi, masih perlukah saya jelaskan kenapa Santana masuk dalam mixtape ini?

Crucified Barbara – Killed By Death (Motorhead cover)
The Iron Maidens yang all female menjadi cover version band dari Iron Maiden masih bisa lah ya, range vokalnya menjangkau gaya Dickinson. Tapi bagaimana jadinya kalau Swedish - All Female band bernama Crucified Barbara ini mencoba peruntungan dengan meng-cover tembang binal dari kontingen ugal-ugalan: Motorhead? Dengarkan saja…

Eric Clapton – I Shot The Sheriff (Bob Marley cover)
Clapton membawakan lagu ini setahun setelah Bob Marley merilisnya pada tahun 1973 dan turut bertanggung jawab memperkenalkan musik reggae ke ranah mainstream.

My Chemical Romance – All I Want For Christmas Is You (Mariah Carey cover)
Saya suka cara biduan MCR Gerrard Way menyanyi. Depresif, komikal, ekstra penghayatan (yang terkadang berujung lebay) dan histeris. Pertama mendengar lagu ini, kesan nuansa natal sama sekali tidak terlintas. Tergantikan oleh komposisi bernuansa rock dengan ratapan khas Gerrard Way yang membuat saya berpikir “oh, Gerrard ini semacam pria yang mengalami krisis paruh-baya plus puber kedua”.

Metallica – Astronomy (Blue Oyster Cult cover)
Salah satu cover version terkenal yang dibawakan oleh Metallica selain Whiskey In The Jar dari The Dubliners.

Muse – Can’t Take My Eyes Off You (Frankie Valli cover)
Termasuk salah satu lagu yang paling banyak di-cover. Versi dari Muse ini menampilkan falsetto nan rupawan dari frontman cerdas Matthew Bellamy (gitaris-vokalis).

Primus – Have A Cigar (Pink Floyd cover)
Sebenarnya saya agak kurang ridho jika lagu-lagu Pink Floyd direpresentasi ulang oleh musisi lain. Tapi Primus oke juga kok representasinya.

Pearl Jam – Rocking On The Free World (Neil Young cover)
Lebih dahulu dibawakan dalam versi live Pearl Jam bersama Neil Young, versi yang ada di mixtape ini adalah versi unplugged.

Aji Idol – Ketahuan (Matta cover)
Terimakasih untuk Aji yang membuat lagu besutan band Melayu-esque Matta ini menjadi lebih gemerlap dan naik kelas. Baik versi Matta maupun Uut Permatasari tidak direkomendasikan. Karakter vokal Aji yang Jazzy ditambah aransemen full band yang ciamik mengiringinya kala menjadi penampil dalam ajang Indonesian Idol beberapa tahun silam.

Frau feat Ugoran Prasad – Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa (Melancholic Bitch cover)
Aura magis selalu muncul tiap Frau membawakan lagu ini berduet dengan Ugoran Prasad yang merupakan biduan Melancholic Bitch. Permainan piano dari Frau ditambah duo harmonisasi suara dua manusia lawan jenis… Mohon jangan dengarkan lagu ini sendirian di dalam ruang tertutup jika kamu sedang mengalami galau akut!


Download the whole cover here


DOZAN ALFIAN



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More