Root, Character, Attitude

Salam, nama saya Dozan Alfian. Selamat membaca :)

Root, Character, Attitude

Hellavila Records, Minor Label asal Jogjakarta. Induk dari Cranial Incisored, Spider's Last Moment, Lex Luthor The Hero dan Overseas

Root, Character, Attitude

Between The Living And The Dead, Full Length kedua dari Lex Luthor The Hero, dirilis 19 Agustus 2011 BEBAS BEA a.k.a FREE DOWNLOAD

Root, Character, Attitude

Lex Luthor The Hero, Hardrock. Band naungan Hellavila Records

Wednesday, 7 August 2013

Sang Nahkoda Telah Berpulang

Terlibatlah kalian semua dalam suatu persekongkolan hati nurani
- Andi Paherangi Jaya


"Semalam, jam 11"
"Kemarin dulu menurun kondisinya"
"Sudah engga doyan makan dan minum sejak pulang dari Cina tanggal 30 kemarin"
"Dia sudah pergi"
"Seperti apa katanya dulu, GM itu datang dan pergi sesuka hatinya"
"Dan kini, beliau benar-benar pergi tak kembali lagi"

---

Saya mungkin tak mengenalnya sedekat teman-teman pegawai yang lain. Hubungan kami, sejatinya sebatas atasan dan bawahan yang paling bawah meski tak teramat bawah. Namun dari hubungan yang semestinya berjarak-jenjang tinggi dan berundak itu, saya mampu mengambil posisi tribun paling nyaman untuk menikmati peran sebagai seorang penonton. Dalam mata seorang penonton, yaitu pada sudut pandang orang ketiga, hubungan beliau selaku orang pertama dengan para bawahannya sebagai si orang kedua terpetakan jelas: jarak yang membentang sudah dibangunkan sebuah jembatan kokoh olehnya, dan beliau mampu menyeberang masuk ke dalam teritori berlumpur yang biasanya enggan ditapaki para pemangku jabatan vital. Maksud saya jelas, beliau tak keberatan serupa guru SD yang hapal semua nama anak didiknya, pun hal-ihwal yang melingkupi kebiasaan anak didiknya. Terkadang saya ngeri, ini sudah bukan hubungan mutualisme atasan-bawahan lagi, mungkin terkadang sudah menjelma menjadi hubungan ayah-anak, dimana kau tak akan mampu mencuranginya dari belakang karena ibarat seorang ayah, dia mengenalmu seperti dia mengenal dirinya sendiri.

Baru 3 tahun silam saya mengenalnya, bersamaan dengan datangnya para OJT angkatan 16 di kantor Ketintang, Surabaya. Saya mungkin sedikit apes waktu itu, mengingat hari pertama saya bekerja adalah hari beliau sedang bersidak keliling ruangan. Ruangan yang saya tempati kala itu hanya sebuah ruang kecil dingin bersamaan dengan instalasi perangkat server yang nampaknya baru terpasang beberapa waktu sebelum saya tiba, mengingat kondisinya yang berantakan. Saya mengingat, pintu dibuka tiba-tiba, saya terkejut dan melongo. Ngowoh. Beliau tidak ambil pusing bertanya siapa saya, si orang baru yang menempati ruangan baru itu, langsung saja main bentak "Bisa bersih engga? bersihkan! Mana Satrio? Rapikan ini semua! Kabel ini bisa dikasih masuk engga? Harus bisa!"
Blam!
Pintu ditutup dengan bantingan yang menggetarkan hati para pekerja hari pertama yang berusaha terlihat tegar.
Mampus, batin saya. Hari pertama sudah kena semprot orang yang sepertinya berkuasa disini.
Saya yang sudah hilang mood, ogah-ogahan ketika diajak serta berkumpul pada meeting yang diadakan di ruang makan. Belakangan baru saya tahu bahwa orang yang tadi membentak saya adalah sang General Manager, yang punya hobi mengadakan meeting pada jam-jam efektif dan sering tak kenal waktu.
Setegar apapun saya, kikuk rasanya, sebagai orang baru yang belum berkenalan dengan seorangpun di kantor itu, diajak serta duduk dalam suatu forum. Ah, kekikukan saya perlahan hilang karena pada waktu itu terjadi sesi perkenalan dengan para penghuni baru di Kantor: OJT 16. Ketika tiba giliran saya memperkenalkan diri, orang itu, Beliau Yang Terhormat Bapak General Manager, ramah luar biasa! Hilang sudah semua angker yang muncul saat dia membentak saya pagi tadi. Dia tak lupa wajah saya. "Ah, iya kamu, yang tadi di ruang server ya. Kenalkan nama kamu".
Sekali lagi saya belajar, orang ini ingatannya kuat.

--

Saya rasa jika kami semua berkumpul dalam suatu diskusi singkat, bisa jadi muncullah suatu benang merah tipis sebagai simpulan: Andi Paherangi Jaya, namanya adalah sinonim dari 'perintah-perintah yang tak dapat ditolak'. Beberapa kali kami kelabakan jika ada permintaannya yang terdengar mustahil. Masalahnya adalah, beliau tak mengenal penolakan. Tidak bisa adalah tanda kelemahan. Tidak bisa adalah tanda kau tak layak mendapat kepercayaannya, atau mengemban suatu tugas yang membutuhkan ketegaran yang kokoh. Ini bisa jadi baik ataupun buruk, sekali lagi tergantung sudut pandangnya. Dalam karier kepenontonan saya pada teater bernama SULMAPA ini, muncullah beberapa nama yang menjadi 'Spesialis' yang menjadi favoritnya dalam tugas-tugas terrtentu. Sebagai kontranya, muncul pula mereka-mereka yang tingkat kesalahannya sudah sampai tahap susah diampuni, hingga tak sedikit muncul namanya berseliweran dalam borok-borok rapat.
Tapi, beliau sekali lagi serupa seorang bapak. Terkadang, meski marahnya tak tertanggungkan, kami masih melihat sorot kasih sayang di matanya. Terlepas dari hal-hal manusiawi yang melingkupinya, sosoknya yang kerap kontroversial ternyata mampu mendapat tempat di hati kami, para bawahan yang terkadang sampai heran bagaimana Bapak satu ini bisa hapal nama, kebiasaan, hobi, bahkan tahu gosip-gosip underground remeh-temeh kelas picisan sekalipun, padahal beliau sebagai seorang General Manager jarang sekali berada di kantor.
Dan sekali lagi, sepanjang karier kepenontonan saya, baru kali ini saya melihat sang tokoh utama yang tinggal di menara gading mau repot-repot turun ke bawah sekedar ngobrol ngalor-ngidul dengan staff di bawah pimpinannya.

--

Jika saja garis Tuhan bisa dirangkai sesuai rencana manusia, rasanya kami tak ingin mendengar kabar beliau terjangkit kanker usus besar. Penyakit itu membuatnya kehabisan separuh lebih berat badannya. Gestur tubuhnya yang biasa kokoh dan sangar mendadak bertransformasi dalam bentuk seorang pria tua penuh uban dan kurus terbalut dalam baju berlapis-lapis yang tak mampu menyembunyikan visual yang mungkin berusaha ditutupinya.
Pada hari ulang tahunnya, 5 Februari 2013 silam, beliau datang berkunjung setelah beberapa waktu sebelumnya menjalani perawatan di Cina. Susah untuk tak menahan haru demi melihatnya dalam kondisi seperti itu. Kami, beberapa orang yang terlibat dalam kongsi persekongkolan hati nurani bernama Konsorsium Humaniora membuat sebuah dokumenter singkat yang narasumbernya adalah semua pegawai SULMAPA. Secara pribadi, saya yang menghadapi editing tools selama 10 hari nonstop mengalami goncangan batin setiap melihat ulang review hasil shooting yang diambil siangnya. Andai saja saya tidak malu pada dua rekan Associate Editor ; Zaen dan Bondan, bisa jadi saya menumpahkan air mata saya. Meski terkadang beliau menyebalkan, ternyata saya baru sadar jika saya menyayanginya. Saya rasa begitu pula yang dirasakan teman-teman lain terlepas dari apa saja kekurangannya sebagai manusia biasa.

Saya masih ingat, betapa beliau diam dan kehabisan kata-kata saat kami semua memberinya tambahan hadiah berupa sebuah foto dirinya dalam bingkai berukuran 1,5 meter yang berwujud mozaik. Isinya, merupakan gabungan dari 1000 buah foto dari dokumentasi SULMAPA sepanjang 2010-2012.
Kini, setelah kepergiannya yang akhir, rasanya kami semua bersatu dalam doa mengharap yang terbaik baginya, seperti 1000 foto kami semua yang bersatu dan terjalin, berkelindan dalam rajutan mozaik yang membentuk sosok Sang Nahkoda.

Selamat jalan Bapak, darimu kami belajar menjadi satu, seperti slogan yang tak hentinya kau kumandangkan laksana wahyu yang mesti tersampaikan: One Team, One Ship for One Goal.


-Dozan Alfian-

Monday, 15 July 2013

Bersua Para Sundal Melankolis Via Layar Tancap

Jatuh cinta pada pandangan pertama itu bisa melenakan, terlebih jika sampai dihantui rasa penasaran teramat sangat. Maka hampir selalu berujung pada sifat obsesif yang nyaris permanen. Begitu kurang lebih yang saya rasakan, mengalami fase jatuh cinta tak berujung pada kolektif Melancholic Bitch akibat dikutuk pandangan pertama menyaksikan aksi panggung mereka untuk pertama kali--kalau saya tak salah ingat--sekitar tahun 2007. Terhitung hingga saat ini, hanya sekali masa itulah saya menonton live mereka yang benar-benar live. Hadir langsung di hadapan mereka, merasakan sendiri gelisah yang menguar dari audiens yang tak sabar menunggu penampilan mereka.
Lain tidak.

Jelas, 2013 adalah tahun yang menggembirakan bagi para Penyembah Berhala, karena tahun ini Melancholic Bitch tampil lebih sering, tak melulu hanya sekali dalam setahun. Saya melewatkan semuanya, terlebih, yang paling saya sesali adalah show mereka di Bandung, dimana saya melirik setlist mereka via laman Liga Musik Nasional dan dibuat melongo demi mengetahui bagaimana mereka menyusun repertoir yang serupa naskah drama tersebut.


Terang, saya gundah bukan buatan ketika mendengar kabar mereka akan manggung di Festival Kesenian Yogyakarta. Obsesif, saya ingin sekali pulang namun terganjal urusan pekerjaan. Kembali gundah, saat mengetahui mereka akan ke At America. Lagi-lagi terganjal perkara mencari nafkah di rantau.

Pupus sudah, saya melewatkan semuanya. Meski berkecil hati, saya masih sok-sok an menghibur diri, At America biasanya mengunggah video konser penampil yang tandang ke At America melalui Youtube, seperti yang saya temukan saat melihat show Seringai dan Endank Soekamti di At America via Youtube.

Sabtu 13 Juli 2013, hari mereka konser. Saya cuma bisa melengos membaca timeline Twitter, beberapa pesohor yang saya follow berkicau sedang dalam perjalanan menuju At America. Saya menghibur diri. Masih ada Youtube, begitu dalam hati saya membatin.

Terus scrolling timeline, Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia) mengunggah foto Melancholic Bitch pada set Mars Penyembah Berhala. Saya mengutuk. Mengumpat. Sampai tiba--meski telat yang teramat--pada kicauan Anto Lele yang mengabarkan bahwa live Melancholic Bitch disiarkan streaming via web At America. Kontan saya terpana, tak berlama-lama segera berlari menuju link yang dia bagi. Dapat! Nasehat yang Baik sedang mulai dimainkan. Ugghhh.. saya tahu saya pasti melewatkan banyak set. Tak jadi soal, masih ada Youtube, begitu batin saya. Maka saya anteng, khusyuk dengan khusyuk peribadatan seorang peserta tarekat.

Meski menonton dengan gaya layar tancap, tapi harus saya akui hakekat merinding yang sebenar-benar merinding saya alami demi melihat Ugoran Prasad menandak-nandak kesetanan pada beberapa lagu (fase 'menggelepar kerasukan' saya saksikan pada set Mars Penyembah Berhala via re-streaming keesokan paginya). Saya puas meski tak sepenuhnya. Lagipula mereka tak dalam formasi perang terbaiknya. Saya tak melihat Yennu pada tempatnya.

Satu yang mengganggu sekali bagi saya, kenapa MC dan poster menyebut mereka "Simelbi" ? sebegitu rikuh kah menyebut Melancholic Bitch? atau Sundal Melankolis saja baiknya?

Friday, 17 May 2013

Balada Joni dan Susi Adalah Kegetiran yang Terbungkus Romantisme


Mungkin perkenalan saya dengan band yang lebih suka disebut sebagai Seniman Kolektif bernama Melancholic Bitch terbilang telat. Eksistensi mereka sudah berlangsung lama, tetapi saya baru berkesempatan menyaksikan live mereka pada sekitar tahun 2007 atau 2008 dalam sebuah acara yang diadakan oleh salah satu apparel shop kenamaan Kota Yogyakarta yang kini sudah tutup usia. Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda dari band ini. Mereka melakukan set-up alat lebih lama dari band penampil lainnya. Atmosfer saat mereka memainkan repertoirnya pun terasa ada aura magis yang menyelubungi venue. Meski saya belum pernah mendengar satupun lagunya kala itu, tapi saya bisa merasakan pesan yang disampaikan melalui kegetiran vokal Ugoran Prasad sang biduan Melancholic Bitch.


Adalah Balada Joni dan Susi, album yang rilis tahun 2009 dibawah bendera Dialetic Recordings dan menjadi album favorit saya sampai saat ini. Jika diminta menyusun 10 album rilisan terbaik dari skena musik Indonesia, saya hakkul yakin menempatkan album ini pada posisi puncak. Tidak ragu lagi.
Sekali lagi, saya telat mengenal album ini. Meskipun saya sudah menyimpan ketertarikan pada Melancholic Bitch dan berikrar untuk memiliki album yang dirilisnya, saya justru pertama kali mendapat album ini dalam versi unduhan mp3 yang saya copy dari salah satu internet cafe sekitar 2-3 bulan setelah album ini rilis dan baru mendapatkan album fisiknya pada Record Store Day 2013 lalu di Makassar.

Dalam suatu pergulatan pikiran, saya mencoba membedah album fenomenal ini dalam beberapa serpihan. Pertama yang saya lakukan adalah meresapi kekuatan lirik yang ditawarkan oleh penulis lirik Ugoran Prasad. Entah bagaimana teknis pengerjaan album berkonsep ini, yang jelas keseluruhan lagu di album ini terangkai dalam suatu alur hingga menjadi sebuah cerita utuh perjalanan cinta sepasang remaja bernama Joni dan Susi ( "Ketika Joni 21 dan Susi 19..." - Intro). Peran Ugoran sebagai penulis lirik dengan gaya bahasa kaya majas dan dituturkan dengan berbagai pesan terirat di dalamnya saya rasa menjadi kekuatan utama album ini. Maklum, Ugoran Prasad juga merupakan seorang fiksionis, penggiat teater dan berbagai macam kegiatan sastra lainnya. Kemampuannya menulis lirik roman melankolis tanpa terdengar picisan mampu membuat tokoh Joni dan Susi naik strata menjadi Romeo dan Julietnya kaum urban.


Departemen musikal yang diajudani Yosef Herman Susilo (Electric-Acoustic Guitar, Mix-Engineer) dan Yennu Ariendra (Electric Guitar, Synth, Laptop) mampu memberikan sentuhan nuansa yang mendukung Ugo bercerita. Pada suatu kesempatan saya mencoba mengulik progresi chord yang mereka mainkan. Ternyata simple saja, meskipun saat mendengarkan secara utuh, musiknya terdengar kompleks dan penuh dengan sempilan psikedelik yang begitu pekat. Saya menduga para penjaga seksi ritmis seperti Teguh Hari Prasetya (Bass, Keyboard), Richardus Ardita (bass, voice) dan Septian Dwirima (Percussion, Laptop) diserahi tugas mengawal line musik dasar Melancholic Bitch sedangkan Yosef Herman Susilo dan Yennu Ariendra menciptakan atmosfer yang membuat musik Melancholic Bitch lengkap, utuh sebagai sarana Ugoran Prasad berkhotbah dan menceritakan kisah cinta kaum kelas bawah yang tekemas rapi dan berkelas.

Secara garis besar Balada Joni dan Susi menceritakan tentang sepasang remaja bernama Joni dan Susi yang mengikat janji sehidup-semati dalam sebuah ruang kelas, entah menikah atau tidak. Sebagai kaum pinggiran, maka bulan madu adalah suatu khayalan saja. Venesia, Cape Town, Lima, sebutkan saja yang kau mau, semua akan kita datangi. Begitu mungkin kala Joni merayu Susi untuk menikmati khayalan bulan madu. Hari berganti hari, Joni tak hentinya menunjukkan kecintaannya pada Susi dalam rangkaian kalimat rayuan sekaligus sebagai suntik penenang dalam menjalani hidup. Bersama-sama selamanya.. Maka siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita punya televisi? Rasa-rasanya ini adalah suatu kontradiksi, dimana Joni dan Susi merana dalam kehidupannya tapi tak putus dalam curahan kasih sayang. HIngga suatu ketika Susi sudah lelah dan jatuh sakit. Joni enggan menyerah pada kemiskinan yang melanda mereka, baginya kesembuhan Susi adalah mutlak, apapun pilihannya. Dia tak gila ketika mendengar dinding-dinding kamar menyuruhnya mencuri roti, apel, apa saja, demi kesembuhan Susi. Maka berangkatlah Joni menyambangi supermarket. Supermarket dan busung lapar adu lari. Sebuah lorong memerangkapnya. Joni tertangkap tangan! Para pemburu berita mengambil gambarnya, menyiarkannya ke seluruh pelosok negeri. Kelanjutan kisah ini sebaiknya anda simpulkan sendiri dengan mendengarkan Balada Joni dan Susi secara full album :)

Monday, 1 April 2013

Memperingati Melalui Sekotak Boxset

Hari raya Iedul Fitri tahun kemarin terasa istimewa bagi saya dan adik kandung saya karena itu adalah hari raya pertama dalam sejarah dimana kami berdua tidak membelanjakan uang hasil tabungan kami untuk membeli baju baru. Seorang teman tiba-tiba saja menghubungi saya bahwa dia memiliki sekotak memori yang dia jual dengan harga yang sangat miring, seperti bisa ditebak saya dan adik saya akhirnya mengambil kotak tersebut dan tidak mengenakan satu potong-pun baju baru ketika sungkem ke rumah embah. 
Apa gerangan isi kotak tersebut sampai-sampai dia bisa mengalahkan sebuah tradisi hari raya?
Kotak tersebut bernama lengkap “MANIC STREET PREACHERS: NATIONAL TREASURE, A COMPLETE SINGLES”. Sebuah mimpi yang jadi nyata, sebuah atribut untuk melegalisasi status saya dan adik saya sebagai seorang Manics. 

Ide saya untuk merangkai kata-kata di tulisan ini sudah saya pendam sangat lama, selain alasan ditutupnya Multiply, saya juga berusaha keras untuk menjauhkan rangkaian kata ini menjadi semacam ritual unboxing standar. 
Ayo, mari kita berbagi pengalaman batiniah yang lebih dalam mengenai kotak ini. Manic Street Preachers (yang kemudian dilanjutan kisah ini akan saya singkat menjadi MSP) merupakan salah satu band yang menempel di hati saya, dalam, sangat dalam. Diawali dengan perkenalan dengan banyak hits mereka seperti “ You Stole the Sun From My Heart”, atau ”If You Tolerate This Then Your Children Will be Next” tiba-tiba saja mereka seperti mewajibkan pendengarnya untuk menggali lebih dalam tentang apa yang mereka tulis, apa yang mereka coba sampaikan dalam tiap komposisinya. Mau tidak mau saya harus mau, mulailah saya mendalami Generation Terrorist, album pertama MSP. Di album itu mereka banyak mengeksploitasi jiwa rebel mereka, rebel anak muda, rebel terhadap apa saja, rebel terhadap tatanan dunia yang tidak sesuai dengan pikiran mereka, rebel dengan gaya berpakaian yang konvensional, rebel terhadap maskulinitas mereka sebagai pria, rebel, rebel dan rebel. Titik rebel inilah yang nanti pada bagian selanjutnya (yang akan saya interpretasikan secara pengalaman pribadi) akan menjadikan MSP menjadi sebuah band yang kemudian terpaksa mengalihkan ide tersebut menjadi ide tentang penggalian memori sejarah kelam salah satu pencetus ide pemebrontakan melaui lirik dalam band ini dan atau mungkin mereka berkata-kata: “Kita dulu sudah terlalu rebel, terlalu menunjukan jiwa pemberontakan kita, lalu mau apa lagi kita?”. Bisa kita lanjutkan pemahaman saya ketika MSP menghabiskan masa pemberontakan mereka sampai menuju masa ratapan mereka di sisa kariernya? Baiklah ini pemahaman saya secara personal dan secara intim.

I. SEBUAH ESENSIALITAS CARA BERMUSIK
Sebuah band akan ditandai dan menandai keberadaan mereka melalui sebuah album. Secara normal biasanya album pertama bisa jadi sebuah batu loncatan saja atau malah jadi sebuah penanda betapa briliannya karya sebuah band. Dalam konteks MSP, saya menetapkan Generation Terrorist sebagai penanda dan karya paling brilian yang pernah mereka ciptakan. Berasal dari sedikit pemahaman saya ketika membaca biografi MSP, mereka tidak bisa lepas dari kultur para nerd yang mencoba memainkan musik punk rock untuk meraih pengakuan dari lingkungannya. Generation Terrorist dapat dikatakan sebagai album yang sukses karena MSP berhasil menjaga formula-formula yang ingin mereka sampaikan pada masa awal mereka terbentuk, pemberontak, seksi dan meledak-ledak. Kajian lirik yang dibawakan di album ini pun tidak main-main, Nicky Wire dan Richie James menandai mereka sebagai penulis paling tajam dan berkelas sampai saat ini, James Dean pun sukses mengeksploitasi kepandaiannya dalam mengakomodasi  kata-kata menjadi sebuah lagu. MSP mulai meraih kesuksesan besar setelah album ini, mereka dengan pandai menyusupkan kata-kata indah dalam tiap liriknya, mereka adalah pionir, simbol cara pemberontakan yang baru.
Sebuah lanjutan yang enak untuk merangkai bagian satu ini menuju bagian selanjutnya adalah bahwa menurut paham saya MSP tidak pernah lagi memiliki album yang secara isi memiliki esensialitas yang mantap dalam lanjutan album mereka selanjutnya, secara kasar saya menyebut mereka hanya berlomba menjadi penulis yang baik bukan lagi menjadi perangkai nada yang orisinal, baru dan tertantang. Yang lebih mengerikan lagi mereka tidak pernah sadar kalau mereka sedang pasang badan untuk menjadi seorang martir, seorang pahlawan yang gugur, seorang pahlawan yang akhirnya diam.

II. MEMASUKI MASA TERKELAM
Dua tahun setelah Generation Terrorist, MSP merekam The Holly Bible sebuah awal dari pengalaman terkelam yang akan mereka alami. Holly Bible memperkuat kesan MSP sebagai band yang menuliskan pengalaman yang berani dan yang jarang diambil oleh pemusik atau band komersial manapun di dunia ini. Menuliskan sisi kelam dari kehidupan imperialis barat berupa fasisme, prostitusi, menyakiti diri sendiri, omong kosong dan depresi berat jelas bukan pilihan sebuah band komersial untuk mengekspresikan diri mereka pada pendengarnya, namun mereka memilihnya. Konon divisi lirik di album ini hampir semuanya dikuasai pemahaman dan pengalaman dari Richie, sebuah kenyataan dan imajinasi menjijikan apabila kita benar-benar menyelami lirik-lirik yang ditawarkan di album ini. Richie menjalani sesi rekaman album ini dengan mulai memahami kalau bakatnya di band ini bukan pada gitar, tapi pada tulis menulis. Entah untuk memperkuat kesan mistis album ini Richie mulai menyayat bagian tubuhnya dan diperlihatkan dihadapan publik dengan alasan mengerikan berupa keyakinan bahwa kalau dia masih merasa sakit dia berarti masih hidup. Richie akhirnya hilang dan dinyatakan mati entah dengan cara bunuh diri atau dengan cara dikejar-kejar agen rahasia.
Richard "Richie" James Edwards


Richie seolah-olah memberikan tanda bahwa dikemudian hari teman-teman bandnya sudah harus beralih tema dalam menulis lirik, dia sudah mempersiapkan semuanya (Richie memiliki tulisan-tulisan tercecer yang kemudian diabadikan dalam album Journal for Plague Lovers), Richie sepertinya sudah menyarankan teman-temannya di band untuk menulis tentang dirinya saja, tentang kejeniusannya, tentang pemberontakannya, tentang masa mudanya, tentang ritual sayat-menyayatnya. MSP resmi memasuki masa terkelam dalam sejarah mereka dengan kehilangan salah satu penulis lirik mereka, atau mungkin Richie memberi jalan buat teman-temannya untuk membuktikan mereka bisa menulis? atau malah Richie seegois itu untuk memaksa teman-temannya agar kemudian bertahun-tahun terjebak dalam pemujaan terhadap dirinya? Saya secara paham saya lebih memilih opsi yang positif bahwa Richie adalah penganut istilah “cukup adalah cukup”, ketika dia berhasil mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menulis, maka dia memilih untuk pergi dengan caranya sendiri guna memberi jalan bagi teman-temannya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dalam menulis lirik, ya menulis lirik tentang lagu ratapan dan lagu permintaan maaf untuk dirinya.

III. MASA MEMINTA MAAF DAN MASA UNTUK TERUS MENYANYIKAN REQUIEM

Bagian ini adalah bagian yang menjelaskan secara tersurat makna dari judul yang saya ambil. Keputusan saya untuk akhirnya mengambil kesimpulan bahwa MSP pada lanjutan karier mereka hanya meratapi kepergian Richie didasarkan pada banyak sekali bukti, opini dan interpretasi yang sedikit agak liar. Sebagai contoh awal yang paling mudah adalah album pertama MSP selepas kepergian Richie berjudul Everything Must Go. Dalam boxsetnya MSP merilis single berupa A Design For Life, Everything Must Go, Australia dan Kevin Carter.
Dalam pemahaman saya semua lagu ini berisi ratapan, penyamaan kisah, permintaan maaf dan seruan untuk Richie, mari kita bahas satu persatu interpretasi saya: A Design For Live bercerita tentang bagaimana seharusnya hidup itu di desain, dalam visualisainya berupa video klip digambarkan bagaimana kehidupan a la Amerika yang nyaman dengan pasangan orang tua dan dua anak yang hidup di rumah yang nyaman, penuh senyum, penuh rutinitas yang menyenangkan, rangkaian lirik pun dibuat sedemikian rupa indahnya, mengalir dan membuat kita yakin kalau lagu ini adalah kritik dari standarisasi hidup indah a la Amerika, sampai pada akhirnya kita ditemukan dengan “We dont talk about love, we only wanna get drunk, and we are not allowed to spend, as we are told that this is the end”. Sebuah rangkaian yang saya anggap mengejutkan untuk lagu yang indah secara komposisi dari awal dimulainya lagu, kita kemudian harus merunut lagi keseluruhan lirik dan kemudian kita menjadi yakin bahwa lagu ini adalah lagu yang dibuat untuk menggambarkan dari mana Richie berasal (Richie tadinya adalah seorang buruh, seorang supir taksi sebelum dia menjadi roadie MSP dan akhirnya menjadi gitaris MSP) dan apa salah satu kebiasaan Richie semasa dia menghabiskan masa hidupnya (Richie mengalami depresi berat yang membuatnya masuk pusat rehab alkohol sebelum dia akhirnya menderita Self-Harm Deliberate).
Everything Must Go adalah single selanjutnya setelah single A Design For Life dirilis dalam boxset National Treasures, jujur saja lagu ini sangat mengagetkan saya karena MSP seolah-olah meminta maaf dan menyatakan kalau mereka tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa ketika ditanyai kenapa Richie bisa hilang, “And if you needed an explanation, and everything must go” begitu sepatah jawaban mereka.
 Australia jelas merupakan seruan dari harapan kecil teman-teman Richie di MSP yang mendasarkan keyakinan mereka pada rumor yang beredar mengenai keberadaan Richie di Australia. Sebuah seruan yang tak pernah berujung pada keberhasilan membawa kembali Richie dari persembunyiannya, sebuah seruan yang menjadikan lagu ini menjadi sebuah mitos yang membuat para Manics berfantasi mengenai keberadaan Richie.
Kevin carter adalah single selanjutnya, dia adalah seorang kulit putih yang menentang apartheid di Afrika Selatan, seorang kafir, begitu James Dean menyebutnya. Berakhir tragis dengan bunuh diri juga,  Kevin Carter menurut pemahaman saya adalah sebuah penyamaan sosok. Harus diakui banyak kesamaan antara dirinya dan Richie, dalam penutup video klip Kevin Carter MSP mencantumkan kuotasi tersohor milik Paul Virilio “Images contaminate us like viruses”. Kevin Carter adalah pemenang award kemanusiaan atas foto seorang anak kelaparan yang tengah diintai burung pemakan bangkai namun dalam keadaan aslinya dibelakang anak tersebut terdapat pasukan penjaga perdamaian dengan banyak suplai makanan datang ke kamp dimana anak itu tinggal, sebuah ironi karena Kevin tidak memotret secara utuh keadaan saat itu. 
A Photo by Kevin Carter
Sama dengan Richie yang tidak pernah memotret keadaan dirinya secara utuh terutama di masa penulisan album The Holly Bible dimana dia menyembunyikan malaikat mautnya yang bernama Anorexia (bisa kita lihat dalam lirik lagu 4st 7lbs yang juga setara dengan 29kg, sebuah batas orang yang menderita anorexia akhirnya mati, berat Richie pada saat menulis Holly Bible sudah mencapai 37kg) dan ritual sayat-menyayatnya yang membuat dirinya merasa nyaman untuk bersembunyi dari kesakitan batin yang ada melalui kesakitan fisik. Mereka berdua adalah korban dari visualisasi yang salah, yang menyatakan semuanya baik-baik saja tapi sebenarnya tidak. Mereka hanya mau bersembunyi dan menampilkan sisi baik dari seseorang dan mereka semua gagal.
Selepas album Everything Must Go sepertinya MSP mulai menjadikan semua lagu mellow mereka menjadi semacam requiem bagi Richie, entah mereka memang masih menangisi Richie atau mereka membebaskan para Manics untuk menginterpretasi lagu mereka menjadi seperti itu. Tak perlu diceritakan disini, silakan disimak saja seluruh diskografi mereka. Memang bukan sebuah permasalahan ketika sebuah band menyimbolkan personel mereka untuk menjadi sebuah icon, namun dalam kasus Richie kita mau tidak mau akan dihadapkan pada kenyataan bahwa Richie tidak bisa bermain gitar, dia mengaku kalau dia hanya berpose saja. Dengan kata lain setiap divisi kreatif di MSP sudah terisi, sesungguhnya. Divisi musik merupakan bagian James dan Sean, divisi lirik a la Richie-pun sudah menjadi bagian Nicky setelah Richie pergi bahkan James memiliki kemampuan menulis dengan metafora yang lebih baik dibandingkan Richie. Lantas mengapa Richie sebegitu berpengaruhnya, pertanyaan ini baiknya kita lontarkan sambil tersenyum, bukan sembari menyernyitkan dahi dan mengerdilkan peran Richie, atau sebaliknya, mengerdilkan MSP dengan menganggap mereka band yang cengeng.

IV.  KUBUATKAN KAU “THIS IS THE DAY”

Album terakhir MSP adalah Postcard From A Young Man, lagi-lagi sebuah album yang secara musikalitas biasa-biasa saja. Kesan menarik dari album ini adalah lagi-lagi (lagi) mengenai single yang dirilis yang berjudul “This Is The Day” yang berisi rekam jejak MSP bersama Richie maupun selepas Richie pergi. Dalam video klipnya, “This Is The Day” dibuka dengan kutipan menarik milik J.G. Ballard yang berbunyi “Memory is the greatest gallery in the world and i can play an endless archive of image”. Sekali lagi MSP secara jujur menghadirkan Richie dalam lagu mereka, suatu yang tipikal namun tidak pernah membuat kita (atau mungkin saya saja) merasa  bosan, justru kita (atau mungkin saya saja lagi) akan merasa “wah, mas-nya diulas lagi, mas-nya hebat” yang kemudian dilanjutkan dengan senyum kita untuk kemudian membawa terawangan jauh ke masa lalu ketika MSP masih dilengkapi Richie. Jadi tercapai sudah maksud judul yang saya sematkan diatas, boxset MSP ini sangat bermanfaat buat teman-teman yang mungkin butuh cara yang paling tepat untuk membawa Richard James Edward kedalam kamar kita, kedalam pemutar musik kita sehari-hari, kedalam ruangan yang kita anggap paling nyaman yaitu memori atau lemari yang berisi barang yang kita kumpulkan. Kita dapat mengenang semua peninggalannya setiap waktu untuk kemudian menyimpulkan senyum.
Sebagai kesimpulan yang lebih luas, saya menyimpulkan bahwa hilangnya Richie malah bagus buat MSP karena di masa Post-modern ini mereka mau rebel ke siapa (lagi) dan seperti siapa (lagi)? Che Guevara sudah jadi simbol keseksian anak muda tanggung yang belajar “kiri”, Castro sudah diambang maut, palu arit sudah jadi lambang saja, tidak lebih dari itu, semua pengusungnya sudah runtuh, kalaupun Richie masih ada dan mengiblatkan diri pada sosok pemimpin baru yang rebel, mau memilih siapa dia? Chavez sudah mati, 5 orang yang satu tipe dengannya sudah mati atau hampir mati karena tiba-tiba terkena kanker, mau meniru presiden Iran? Ahh sepertinya mereka tidak terlalu peduli atau tertarik dengan masalah imperium pan-arab. Memang hematnya cukup itu cukup, dan memang benar kata James kadang “Everything Must Go”, dan bagi saya hal ini adalah hal yang menyenangkan, karena akhirnya saya berani menulis lagi dan berani menceritakan pengalaman batin saya lagi terhadap sebuah musik dan pelakunya. Terima kehadiran saya kembali, semoga jauh lebih baik dibanding kehadiran saya di masa lalu. Selamat malam, ingat Everything Must Go, baik yang pergi dan baik yang datang kita musti merelakannya. Salam 

(Ditulis sembari diiringi From Despairs To Where – The Manics)



*Artikel ini ditulis oleh teman, rekan, sejawat, saudara seperjuangan Wiman Rizkidarajat, Vokalis dari band progresif cerdas asal Yogyakarta; Spider's Last Moment. 
Kontributor lepas untuk Ear Magazine, serta beberapa kali menjadi narasumber mengenai musik Sludge di radio maupun media cetak.

Lihat Mixtape Exhibition Wiman Rizkidarajat di sini

Wednesday, 26 December 2012

Musick Bus: Record Shop Bergerak dari Kota Makassar

Boleh jadi Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang mempunyai fanbase musik mainstream dan non-mainstream yang militan (baca pernyataan Kieran James; seorang peneliti musik underground asal Australia dalam interview-nya dengan saya disini). Tapi perlu pula dicatat, Indonesia masih menjadi negara dengan tingkat pembajakan yang tinggi pula. Saya mahfum, bahwa tingginya tingkat pembajakan berasal dari antusiasme salah kaprah para pecinta musik di negara ini yang selalu ingin up to date berkaitan dengan rilisan-rilisan musik favoritnya, namun ogah-ogahan bila disuruh membeli rilisan aslinya. Alasannya klise, "Jika mengunduh di jagat dunia maya bisa semudah satu 'klik' saja, buat apa mahal-mahal membuang uang untuk membeli?", apalagi jika yang dicari adalah Band mancanegara, otomatis kocek yang dirogoh akan lebih besar.
Ah, agaknya mereka-mereka ini lupa (atau bahkan tidak mengerti) bahwa kesediannya membeli rilisan asli dari Band idolanya turut membantu kelangsungan hidup dari si Band idola. Dengan demikian kelangsungan berkarya dari Band idola akan tetap terjaga.

Rilo himself
Adalah Rilo, seorang remaja belasan tahun asal Makassar yang masih duduk di bangku SMA dan tergugah akan fenomena ini. Rilo yang kabarnya sudah menjadi kolektor berbagai artefak musikal (CD - DVD - Piringan Hitam dan merchandise) sejak SMP ini memutuskan untuk sekalian menjadi seorang enterpreneur dengan mengakomodasi sarana bagi publik Makassar pada khususnya untuk bisa mendapatkan produk rilisan resmi dari suatu Band / Musisi dengan jalan membuka sebuah Record Shop.

Oh, anda terkejut dengan fakta bahwa Rilo memiliki kesadaran sedini itu? terkejut dengan usianya yang masih belia untuk menggagas sesuatu yang prestisius? saya belum selesai. Jika secara konvensional sebuah Record Shop dalam bayangan kita adalah bangunan permanen dengan rak display di setiap sudut tembok dan sebagainya, maka buang jauh-jauh sekarang juga pikiran itu.

Musick Bus
Boxset Iron Maiden
Rilo hadir dengan konsep Record Shop berjalan! Sebuah minibus disulap menjadi sebuah Record Shop bergerak lengkap dengan display, perangkat pemutar tembang digital, televisi, plus sebuah pemutar piringan hitam. Atas dasar itulah maka unit usahanya ini diberi nama MUSICK BUS.
Ruangan yang minimalis ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung tetap bisa nyaman untuk masuk dan memilih album yang dikehendakinya. Rilo mengatakan bahwa sejauh ini hanya musik dari genre Jazz dan Hip-Hop saja yang belum ada dalam katalognya. Tapi jangan khawatir, anda bisa memesan rilisan yang anda inginkan jika apa yang anda cari kebetulan tidak ada dalam MUSICK BUS miliknya.

Pada kesempatan yang lalu, tepatnya pada acara soft launching MUSICK BUS di Circle K Jl. Sultan Hasanuddin Makassar tanggal 23 Desember 2012, saya melihat-lihat koleksinya. Mulai dari CD album-album lama yang legendaris, Piringan Hitam, DVD Live Concert, Boxset hingga Action Figure ada di situ. Belum lagi tersedia pula original tees yang dijamin akan memperindah khasanah berbusanamu :D

Kehadiran MUSICK BUS di Makassar sebagai Kota yang mulai menggeliat skena musik sidestream-nya, sepatutnya bisa mengakomodasi sekaligus mengedukasi peminat, pelaku dan penggiat musik di Makassar untuk membentuk taste dan pola pikir yang lebih baik. Tentunya diimbangi dengan kesadaran untuk berhenti membajak dan membeli rilisan original :)



Sukses MUSICK BUS!

-DOZAN ALFIAN-



Follow MUSICK BUS on Twitter @MUSICK_BUS and RILO @rilo_mappangaja

Tuesday, 2 October 2012

Glory Days: Sepekan Bersama Oh, Nina!

 Mengutip catatan menarik dari Wisnu Martha, "Suatu hari adalah wahana bagi seorang individu untuk bertindak," rasa-rasanya kita semua sepakat dengan suara bulat bahwa demikianlah adanya. Mengapa saya setuju dengan konsep kata wahana, adalah karena saya hakkul yakin bahwa sejawat sekalian menolak mentah-mentah keseharian yang monoton nan sami mawon. Semua hari adalah spesial, saya tidak mengenal ataupun mengamini adanya hari baik, hari sial atau apalah namanya. Semua hari spesial dengan hakikatnya masing-masing, dan menjadi landasan bagi kita semua mengisi hari agar tidak sekedar menjadi repetisi rutinitas belaka. Agaknya itu yang melandasi duo electropop band asal Yogyakarta Oh, Nina! mengikat 7 hari yang kita kenal dalam satu kesatuan bernama God Moods, wahana yang mereka gunakan untuk merepresentasikan betapa semua hari yang berlalu mempunyai makna-maknanya sendiri.

Kesan pertama saya ketika memutar kumpulan 'hari' ini nampaknya segendang-sepenarian dengan kesan pertama saya kala pertama kali mendengar The King Of Limbs dari Radiohead, sebuah album yang perlu didengarkan berkali-kali sebelum menemukan feeling yang pas tentang bagaimana cara menikmatinya dengan proporsi yang tepat. Terlebih dengan bebunyian elektronika berbirama ganjil yang terkadang juga dissonant. Menarik disimak, album ini tak hanya mengeksplorasi tipikal permainan mereka saja, tetapi juga menghadirkan beberapa hal segar jika anda berkenan menguliknya satu-persatu. Wajar, album ini memakan waktu 2 tahun dalam proses pengerjaannya dimana proses jamming dan brainstorming untuk membangun nuansa dan mendapatkan mood amat berpengaruh pada hasil akhirnya.

Memulai dengan Monday sebagai hari pertama, track ini mengalun dengan intro lembut plus kalimat bernada hiperbola dan cenderung nihilistik macam "home was a place to crawl before we walk a million miles..." nuansa yang dibangun cukup mewakili, mengawang laksana terbangun dari kenyataan bahwa kita harus memulai lagi kehidupan kita paska menikmati libur di hari sebelumnya, berlanjut ke Tuesday yang berirama riang, enak dinikmati tanpa perlu mencurahkan konsentrasi berlebih. Wednesday adalah hari yang digambarkan sebagai waktu untuk kembali menaikkan tempo, kembali up-beat tanpa banyak basa-basi dan terus melesat fast, fast, fast and faster. Thursday menjadi gerbang bagi lagu-lagu berikutnya yang mulai sarat akan eksplorasi. Intronya saja sudah cukup unik bagi saya, ditambah sempilan nada-nada unik di pertengahan menuju akhir. Friday, sebagai salah satu hari yang diagungkan oleh umat muslim digambarkan dengan nuansa yang syahdu, terlebih dengan adanya alunan shalawat oleh Marwanto, serta Saturday dan Sunday sebagai pamungkas dalam alunan 7 hari menuju semesta (meminjam judul lagu favorit saya dari kelompok Melancholic Bitch) yang terangkum apik. 

Oh ya, selain memunculkan shalawat pada lagu Friday, Oh, Nina! menyelipkan sebait doa Buddha "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta" pada lagu Sunday, yang mana ini seakan wujud penyampaian Oh, Nina! atas isu pluralitas yang sedang menggejala akhir-akhir ini.
Entahlah, mungkin hanya kebetulan atau memang sudah diatur sedemikian rupa, yang jelas God Moods yang sejatinya merupakan hadiah ulang tahun atas eksistensi mereka selama 9 tahun ini mengukuhkan Oh, Nina! sebagai unit electropop kepunyaan kota Jogja yang tidak pernah kering ide. Viva la Oh, Nina!

DOZAN ALFIAN
 
*Sulit untuk mendeskripsikan lagu-lagu dalam album God Moods menggunakan bahasa saya yang berantakan ini, sekiranya anda segera menuju tautan yang saya berikan ini dan mengunduhnya serta menikmatinya sendiri.Enjoy!

Thursday, 27 September 2012

Fenomena Kontradiksi Suddenly Sunday


Sejak kemunculannya pada tahun 2007 dan disusul dengan sebuah mini album “Music Box” pada tahun 2008, sudah bisa dipastikan bahwa Suddenly Sunday adalah sekelompok muda-mudi pengusung Indie Rock yang tidak klise dan berpotensi besar. Selang waktu 4 tahun sejak Music Box, mereka banyak berbenah: bongkar pasang personel, video klip perdana, dan akhirnya Everything Under The Sun; sebuah album dengan daya kreasi out of the box mereka persembahkan dengan suka-cita lagi riang-ria. Simak obrolan EAR dengan mereka via surat elektronik di sela-sela kesibukan mereka paska tampil dalam sebuah tayangan reguler di sebuah televisi swasta-nasional beberapa waktu lalu.
Congrats untuk perilisan album Everything Under The Sun! Sebuah album yang seru. Apa arti Everything Under The Sun (EUTS) bagi kalian?
Suddenly Sunday (SS) : Terima kasih EAR :) Album ini bisa dibilang rangkuman perjalanan SS selama 5 tahun ini, baik secara musik maupun personal. EUTS  menggambarkan kehidupan, dimana siklus kehidupan itu banyak elemennya, misal sedih-senang, fenomena kontradiksi, tentang perasaan, alam dan manusia. Elemen-elemen itu juga yang menjadi tema-tema lagu kita. Secara personal, SS sendiri juga mengalami elemen siklus kehidupan, misal pergantian personil beberapa kali yang datang dan pergi, hingga harus ada adaptasi dan survive juga biar SS gak bubar.
Cukup lama berlalu sejak perilisan EP Music Box pada tahun 2008 silam, apa saja yang terjadi dalam kubu SS secara krusial?
SS : Yap, cukup lama memang. Yang terjadi dalam kubu kami adalah bongkar pasang personil. Ya, seperti wacana kultur pendidikan di Jogja sebagai kota pelajar (setelah lulus, akan berpencar). Sama seperti yang terjadi dalam kubu SS sendiri. Sampai akhirnya 2010 kami memulai bangkit dengan formasi baru. Dini Yunitasari (voc), Adi Wijaya (gitar), Helmy Febrian (Gitar), Dewi Sarmudyahsari (drum) dan Woro Agustin (bass). And finally, Juli lalu kami berhasil merilis debut album kita :)
Ada cerita menarik selama proses penggarapan album ini?

SS : Proses pembuatan album ini terhitung sejak 2010. Dimulai dari terbentuknya formasi kita ini. Jelas, keinginan kita secepatnya untuk merilis album. Tak terasa 2 tahun terlalui, waktu yang cukup lama ternyata. Ya karena kita sendiri mempunyai kegiatan masing-masing dan pekerjaan masing-masing, jadi waktu adalah kendala utama kita. Ditambah kedua gitaris kami yang berdomisili di Magelang, jarak juga menjadikan kami sebagai band LDR (Long Distance Relationship,-red) :) Tapi toh itu bukan jadi masalah, ketika Gunung Merapi meletus tempo lalu, jalanan Jogja-Magelang terpisahkan oleh material Merapi, dan itu bukan menjadi kendala utama bagi double fighter gitaris kita. Mereka tetap semangat untuk sekedar latian studio di Jogja!
Untuk Dini, apakah perlu penyesuaian tersendiri untuk bergabung dalam formasi SS, mengingat vokal Wandan dulu juga mempunyai karakter yang cukup kuat…
SS :Penyesuain tersendiri sih enggak ya. Soalnya dari awal aja kalo nyanyi lagu SS, aku nggak dengerin dari vokal yang udah diisi sama Wandan. Langsung pas latihan, spontan aja menyanyikan. Menginterpretasi dan kadang cari notasi sendiri karena gak ada yg bisa nyontohin nyanyi.  Kalau berbicara respon pendengar lama, sejauh ini sih kami mendengar respon yang sangat baik tentang hadirnya Dini. Bisa dibilang juga, dengan formasi SS yang sekarang ini, membuat musik kami menuju pendewasaan yang lebih matang dari materi-materi sebelumnya.
Ada beberapa lagu di EP Music Box yang diaransemen ulang dan masuk ke EUTS, bahkan “Music Box And The Glowing Tree” sudah direkam 3x dengan 3 vokalis berbeda pula :) bisa  ceritakan sedikit tentang ini?

SS : Ada 3 lagu dari EP yang kami masukan lagi ke LP : Music Box And The Glowing Tree, Say Hello To Ironique dan Higher. Untuk lagu Music Box And The Glowing Tree sendiri, kami rasa sudah sangat melekat dengan Suddenly Sunday dan sejarah lagu ini yang cukup punya cerita tersendiri buat SS. Jadi akan sangat sayang sekali kalau lagu ini gak masuk dalam EUTS yang kita garap jauh lebih serius dari EP kita. Dan seperti yang sudah diterangkan di atas, bahwa EUTS ini merupakan rangkuman perjalan SS selama 5 tahun berproses.
Proses yang lumayan lama ya, lalu, bagaimana kalian mendefinisikan musik SS menurut tafsir kalian sendiri?
SS : Kami sih berpatok pada indierock, female-fronted. Tapi kembali lagi, kami membebaskan orang-orang menafsirkan seperti apa musik kita. Yang jelas adalah sound of Suddenly Sunday :)
Jauh sebelum kalian merilis EUTS, kalian justru terlebih dahulu merilis video “Club Addicted”.  Ini anomali, dimana biasanya video klip akan muncul guna mendukung perilisan album, bukan sebaliknya. …
SS : 2010 tepatnya kami mengeluarkan dua demo, Hollow Night dan Club Addicted. Ini sebagai langkah pertama kita untuk menyapa publik dengan formasi anyar dari kami. Dan ternyata responnya sangat baik, sempat menduduki top chart di beberapa radio. Kebetulan juga kami bertemu dengan Rekamotak, kemudian kami membuat video klip Club Addicted untuk merespon balik dari respon pendengar yang diluar perkiraan kita sendiri.
Handmade Packaging versi fisik EUTS ini unik sekali, kabarnya hanya dirilis terbatas sebanyak 200 buah ya?
SS : Betul, hanya 200 pcs. Ide ini muncul dari hasil obrolan dan sharing dengan rekan kita, Afit. Kemudian kami bersama-sama menggodok konsep bersama dan Afit mencoba mengeksekusi dan memvisualkannya. Dan jadilah debut album kita dengan handmade packaging seperti ini.
Selain produk fisik, kalian juga menyediakan versi non-fisik berupa kode unduhan yang hanya bisa didapat disetiap pembelian official merch SS. Tidak merasa rugi dengan model semacam ini?
SS : Tidak, justru menurut kami ini adalah terobosan baru dalam pemasaran. Bersama dengan Gigsplay Records, kami memberikan kode verifikasi di setiap pembelian official merchandise kami. Tujuannya simple, agar musik kita bisa lebih meluas dengan cara yang legal.

Rencana terdekat pasca perilisan EUTS?
SS : Pengennya sih tur. Pengen ngenalin musik Suddenly Sunday ke panggung-panggung rakyat di kota-kota lain atau bahkan negara lain.
Amin! Last words untuk pembaca EAR?
SS : Lets get EARgasm with Everything Under The Sun album :)
[Interview done by Dozan Alfian]

Behind the songs:


Suddenly Sunday – Everything Under The Sun (Gigsplay / 2012)
1. Mighty Sunday
Bagi sebagian orang, hari Minggu dirasa memiliki kekuatan, karena dihari inilah segala aktivitas yang mungkin juga sudah menjadi agenda dilakukan. Dari aktivitas santai, leha-leha, tidur seharian, plesir, hingga beribadah. Dan kekuatan inilah yang juga ingin dibagikan dan ‘meracuni’ mereka yang mendengarkan lagu ini agar selalu merasakan hari ‘Minggu’ pada enam hari lainnya.
2. Hibernation
Lagu ini terinspirasi dari film kartun fiksi di televisi, yang kemudian terkonstruksi dengan realita di bumi. Terutama pemanasan global yang salah satu dampaknya mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub (Utara maupun Selatan). Para ahli (seperti ahli gletser dan juga ahli gunung es Glaciologist) pun telah memprediksi, jika pemanasan global kian parah, gunung es di kedua kutub akan benar-benar habis. Kemudian muncul perenungan, dan peringatan dalam diri di daerah kutub dan sekitarnya. Dimana gunung-gunung es terus mencair dan binatang-binatang yang hidup disekitarnya tergusur bahkan banyak yang mati. Dan memang pada kenyataannya nanti, gunung-gunung es tersebut akan habis, jika gunung es habis, dimana beruang-beruang kutub dan teman-temannya tidak bisa merasakan hibernasi lagi, dan bagaimana dengan manusia seperti saya, kami dan kamu? Setidaknya dari lagu ini bisa memperingatkan kami untuk peduli dengan lingkungan bumi ini melalui perilaku keseharian kami.
3. Music Box and the Glowing Tree
Lagu ini liriknya diciptakan oleh seorang teman bernama Yogha Prasidhamukti. Dirinya sempat bercerita, bahwa lagu ini tentang pesulap ternama dunia, David Copperfield, yang salah satu aksinya yakni berjalan menembus tembok besar di China. Yang jika menjadi seorang David, indahnya bisa merasakan dan melihat ‘sesuatu’ dari sudut pandang berbeda.
4. Club Addicted
Judul dan isi lirik lagu ini sesungguhnya sebuah kontradiksi. Sekilas mendengar judul, mungkin langsung terbersit lagu ini tentang penggila dunia malam (klub malam). Tetapi isi lagu ini justru menceritakan seseorang yang merasa tidak nyaman berada dan menghabiskan waktu lebih lama di klub malam yang bingar. Namun karena sebuah ’kewajiban’, mau tidak mau, rela tidak rela, dirinya harus berada disana meski terasa terkungkung.
5. Hollow Night
Penggambaran perasaan bimbang, antara ya dan tidak. Perasaan sepi yang kadang dihindari orang dan ingin menghabiskannya dengan orang lain, tapi pada suatu momen justru ingin dinikmati sendiri.
6. Higher
Lagu ini sebuah fiksi tentang seseorang yang merasa tertipu dan terkhianati. Ketika seseorang itu sudah merasa nyaman dan membuatnya berimaji, hanya dalam sesaat semua runtuh.
7. Say Hello to Ironique
Tidak semua yang dilihat dipermukaan sama dengan apa yang terjadi di dalam. Melihat hubungan dua individu yang terlihat sepertinya baik-baik saja di luar, padahal hubungan itu tidak terkoneksi dengan baik, bahkan rapuh. Ironis.
8. Myopia
Fiksi ini sebuah kisah menyenangkan. Dimana seseorang memiliki rasa ketertarikan, namun hanya bisa dinikmati sendiri. Melihat sekilas pun rasanya senang, hingga ada rasa ingin mengikuti kemanapun orang itu melangkah, meski kadang hilang, meski kadang tepat didepan.
9. Whatever
Lagu ini bentuk apresiasi kepada teman-teman yang menyokong keberadaan kami hingga sekarang. Terutama teman dan kakak-kakak di sebuah toko baju (Whatever Shop, yang kini sudah tidak ada) dimana cikal bakal Suddenly Sunday terbentuk. Jadi terserah orang mau bilang apa, kami sekarang melangkah dan ada pun karena mereka ada.
10. Red Wall
Mimpi dan kenyataan. Antara imaji dan realitas, yang keduanya terkadang tidak dapat dan tidak ingin dipisahkan. Tapi pada prosesnya, disadari maupun tidak itu merupakan dua hal yang berbeda.
11. Club Addited (Egaa Remix)

[Posted on EAR Magazine / Webzine, August 13, 2012]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More